Thailand Berupaya Bawa Myanmar Kembali ke ASEAN
Berbicara setelah pertemuan dengan mitranya dari Myanmar di Phuket, Sihasak menegaskan: "Thailand ingin menjadi jembatan untuk membawa Myanmar kembali ke ASEAN."
Langkah ini diambil setelah ASEAN mengecualikan para pemimpin tertinggi junta militer Myanmar dari pertemuan puncak penting sejak peristiwa tahun 2021 yang mengakhiri pemerintahan demokratis pertama dalam setengah abad dan memicu konflik serta penindasan yang meluas di negara tersebut.
Selama pembicaraan yang diadakan pada 18 Februari di Thailand selatan, Sihasak mendesak negara yang dilanda perang itu untuk mengambil langkah konkret menuju kepatuhan terhadap rencana jangka panjang blok tersebut untuk memulihkan stabilitas.
Ia menekankan bahwa kerja sama aktif dari Myanmar merupakan prasyarat untuk keberhasilan proses ini.
Menteri Luar Negeri Thailand menyatakan: "Myanmar juga harus membantu Thailand dengan menanggapi kekhawatiran ASEAN, seperti memulai proses dialog, yang merupakan hal baik; mengurangi kekerasan; dan menghindari serangan terhadap warga sipil."
Pada saat yang sama, pejabat tersebut juga menegaskan komitmen kuat terhadap posisi Bangkok, dengan menyatakan: "Thailand akan menunjukkan peran utama" sepanjang proses ini.
Meskipun berpartisipasi dalam pertemuan bilateral dan membahas hubungan antara kedua negara, Menteri Luar Negeri Myanmar Than Shwe tidak memberikan pernyataan apa pun setelah pertemuan berakhir.
Saat ini, upaya Thailand mendapat perhatian internasional yang signifikan, karena membawa Myanmar kembali ke meja perundingan tidak hanya penting secara diplomatik tetapi juga kunci untuk menyelesaikan krisis kemanusiaan dan keamanan di kawasan tersebut.
Para pengamat memperkirakan bahwa dengan Thailand bertindak sebagai "jembatan," proses dialog substantif akan segera diluncurkan untuk mengurangi kekerasan dan membawa perdamaian bagi rakyat Myanmar.




