Nuansa Hijau Band Luncurkan 'Tilem Kesanga Peteng' untuk Lestarikan Budaya Jelang Nyepi
Kutipan News - DENPASAR, NusaBali.com - Menjelang Hari Suci Nyepi, band rock alternatif Bali Nuansa Hijau Band menghadirkan karya terbaru berjudul Tilem Kesanga Peteng.
Lagu ini menjadi bentuk refleksi budaya sekaligus ajakan menjaga identitas Bali di tengah perubahan zaman.
Nuansa Hijau Band saat ini diperkuat enam personel yakni Agus NH (drum), Teguh (bass), Indra (lead gitar), Santo (ritem gitar), Kacir Jim (vokal), dan Mang Koplo (vokal).
Drummer sekaligus pencipta lagu, Agus NH, menjelaskan bahwa judul Tilem Kesanga Peteng memiliki makna filosofis yang erat dengan tradisi Bali. Tilem Kesanga merupakan malam bulan mati sebelum Nyepi atau saat pengerupukan berlangsung, ketika masyarakat mengarak ogoh-ogoh sebagai simbol sifat buruk manusia yang kemudian dimusnahkan melalui proses pembakaran sebagai lambang penyucian alam semesta.
“Ini momen sakral. Setelah pengerupukan, kita masuk ke penyepian sebagai proses pemurnian diri dan jagat,” ujarnya.
Menurut Agus NH, pemilihan waktu rilis menjelang Nyepi bukan tanpa alasan. Lagu ini didedikasikan khusus bagi generasi muda Bali yang aktif dalam proses pembuatan ogoh-ogoh agar tetap memiliki semangat menjaga adat dan budaya.
Pesan utama lagu tersebut, lanjutnya, adalah mengajak masyarakat tetap berpikir positif dan menjaga ajegnya budaya Bali. Ia menilai roh taksu Bali terletak pada kekuatan adat, seni, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Secara musikal, Tilem Kesanga Peteng memadukan nuansa sosial budaya dengan sentuhan etnik dan aransemen modern agar lebih mudah diterima generasi muda, khususnya Gen Z. “Konsepnya kombinasi etnik dan modern. Kami ingin budaya tetap hidup tapi juga dekat dengan anak muda,” jelasnya.
Lagu ini lahir dari proses perenungan panjang Agus NH melihat tantangan yang dihadapi Bali di tengah perkembangan zaman. Baginya, menjaga eksistensi budaya menjadi cara utama mempertahankan jati diri masyarakat Bali, terutama melalui tradisi pengerupukan dan Nyepi yang telah dikenal dunia sebagai Silent Day.
Proses produksi lagu hingga pembuatan video klip berlangsung sekitar satu bulan. Aransemen musik menghadirkan sentuhan gamelan beleganjur, dipadukan visual tarian api dan karakter celuluk yang memperkuat atmosfer budaya. Rekaman dilakukan di Wiwit Setyawan Studio dengan kolaborasi Sekaa Teruna Teruni (STT) Budi Utama Banjar Sakih serta seniman kendang kawakan Wayan Q Wirabawa.
Agus NH juga menceritakan perjalanan panjang Nuansa Hijau Band yang ternyata bukan kelompok baru di dunia musik Bali. Band ini terbentuk dari tongkrongan anak muda di Gang Bau, Banjar Sakih, pada awal 2000-an.
Kala itu, kawasan yang dulunya didominasi hamparan sawah hijau mulai berubah menjadi area pembangunan. Nama 'Nuansa Hijau' pun dipilih sebagai simbol kebebasan berekspresi sekaligus representasi alam yang menjadi inspirasi mereka. “Hijau bagi kami warna alam dan kebebasan. Kami ingin menyampaikan isi hati lewat musik secara bebas,” katanya.
Mengusung genre rock alternatif, Nuansa Hijau Band sebelumnya telah merilis dua album, yakni Teresne Uli Suargan dan Kembalikan Baliku. Meski telah beberapa kali mengalami pergantian personel, band ini tetap eksis hingga sekarang.
Agus NH menilai persaingan di industri musik Bali bukanlah hambatan. Justru kehadiran banyak musisi dianggap sebagai cermin untuk terus meningkatkan kualitas karya. Terlebih di era digital, promosi musik dinilai semakin mudah berkat media sosial dan platform digital.
Melalui single terbaru ini, Nuansa Hijau Band memiliki dua target utama. Pertama, menyampaikan semangat kepada generasi muda agar tetap menjaga adat, seni, dan budaya Bali. Kedua, menegaskan eksistensi band yang telah lama berkarya namun terus beradaptasi dengan zaman.
Video klip Tilem Kesanga Peteng sendiri telah dirilis di YouTube dan mendapat respons positif dari warganet. Meski belum ada jadwal tampil khusus dalam rangkaian pengerupukan atau acara jelang Nyepi, band ini menyatakan siap jika mendapat undangan tampil.




