Perjalanan Awal Dewa 19: Dari Band SMP Down Beat ke Panggung Musik Nasional
TULUNGAGUNG - Sejarah Dewa 19 menyimpan kisah panjang yang jarang diketahui publik. Jauh sebelum menjadi salah satu band legendaris Indonesia, perjalanan Dewa 19 justru dimulai dari sebuah band sekolah menengah pertama di Surabaya dengan nama yang sama sekali berbeda, yakni Down Beat. Kisah ini terungkap dari pengakuan para personel yang menceritakan masa-masa awal perjuangan mereka di dunia musik.
Sejarah Dewa 19 bermula ketika para personelnya masih duduk di bangku SMP Negeri 6 Surabaya. Saat itu, mereka membentuk band bernama Down Beat, terinspirasi dari majalah musik jazz asal Amerika Serikat. Meski belum memahami arti nama tersebut, para personel merasa nama Down Beat terdengar keren dan cocok dengan konsep musik yang mereka mainkan, yakni jazz instrumental.
Pada fase awal ini, Dewa 19—yang kala itu masih Down Beat—sering tampil di acara perpisahan sekolah dan berbagai kegiatan internal sekolah. Lagu-lagu yang dibawakan pun bukan musik pop, melainkan jazz fusion seperti Casiopea hingga Krakatau, grup jazz asal Indonesia. Sejarah Dewa 19 mencatat bahwa mereka awalnya tampil tanpa vokalis, murni instrumental.
Perubahan besar dalam sejarah Dewa 19 terjadi ketika mereka bertemu Ari Lasso yang kemudian diajak bergabung sebagai vokalis. Kehadiran Ari mengubah warna musik band yang semula instrumental menjadi lebih variatif. Saat kelas tiga SMP, muncul usulan untuk mengganti nama band menjadi Dewa, yang kemudian berkembang menjadi Dewa 19.
Asal-usul Nama Dewa 19
Nama Dewa dipilih karena dianggap pas dan memiliki makna personal. D merupakan singkatan dari Dani, E dari Erwin, W dari Wawan, A dari Ari Lasso, dan A lainnya merujuk pada Andra. Angka 19 sendiri merujuk pada usia remaja serta nomor kelas yang memiliki makna simbolik bagi para personel. Sejarah Dewa 19 pun mulai terbentuk secara lebih serius sejak saat itu.
Patungan Rp25 Ribu demi Rekaman Demo
Perjuangan dalam sejarah Dewa 19 semakin nyata ketika mereka berinisiatif merekam lagu sendiri. Dengan patungan Rp25 ribu per orang, mereka menyewa studio rekaman selama satu shift untuk menghasilkan satu lagu demo berjudul “Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi”. Nominal tersebut sangat besar bagi pelajar SMP pada masanya, namun tekad mereka tidak goyah.
Inspirasi besar datang dari band Slank, yang kala itu berhasil menembus industri musik lewat jalur independen. Melihat Slank bisa masuk dapur rekaman dengan karakter musik yang kuat, Dewa 19 pun semakin percaya diri bahwa musik mereka memiliki tempat di industri Indonesia
Album Pertama dan Peran Eksekutif Produser
Dalam sejarah Dewa 19, peran seorang sahabat bernama Harun menjadi krusial. Ia bersedia membiayai proses pembuatan album pertama dan bertindak sebagai eksekutif produser. Proses rekaman album tersebut berlangsung dari Oktober 1991 hingga Mei 1992. Meski belum memiliki label, para personel yakin demo mereka akan dilirik industri musik.
Keyakinan itu akhirnya terwujud ketika demo mereka dibawa ke Jakarta dengan bantuan Dadang Ismawan, kakak dari Dani. Demo tersebut sampai ke tangan pimpinan label TIM Records, yang kemudian tertarik dengan konsep musik dan lirik Dewa 19 yang dinilai segar dan berbeda.
Pihak label mengakui bahwa mereka sempat mengira Dewa 19 adalah band senior karena kualitas musikalitasnya. Dari sinilah sejarah Dewa 19 mencatat langkah resmi mereka masuk industri musik nasional. Bergabungnya Dewa 19 dengan TIM Records menjadi titik balik yang mengantarkan mereka menuju popularitas besar di tahun-tahun berikutnya.
Kisah ini membuktikan bahwa sejarah Dewa 19 bukanlah cerita instan. Dari band SMP, patungan uang saku, hingga akhirnya dipercaya label rekaman, perjalanan mereka menjadi inspirasi kuat bagi generasi musisi muda Indonesia.




