Reconcile Rilis Album Mini 'Left Me Lost' yang Mencerminkan Kehilangan dan Keterasingan
Sumber Foto: Pophariini
Hiburan

Reconcile Rilis Album Mini 'Left Me Lost' yang Mencerminkan Kehilangan dan Keterasingan

Kutipan News - Unit emo/alternative asal Malang, Reconcile kembali dengan album mini terbaru bertajuk Left Me Lost yang resmi dirilis 13 Februari 2026. Beranggotakan Dava pada vokal dan gitar, Nabil (gitar), Zidane (bas), serta Chelsey (drum), Reconcile menghadirkan fase yang lebih reflektif lewat materi yang terasa lengang, rapuh, namun tetap emosional. Album mini ini bergerak di antara kehilangan kasih sayang dan keterasingan diri, membingkai kebingungan arah hidup dalam lanskap sound yang mengawang sekaligus abrasif.

Proses pengerjaan Left Me Lost sendiri tidak berjalan konvensional. Nabil yang melanjutkan studi di Taiwan, sementara personel lain disibukkan skripsi dan pekerjaan, jarak dan zona waktu menjadi tantangan tersendiri. Namun alih-alih menjadi hambatan, situasi tersebut justru membentuk karakter emosional rilisan ini.

“Jarak fisik dan perbedaan waktu membuat rasa ‘tidak terhubung’ dan ‘tidak sefrekuensi’ yang kami alami bukan sekadar konsep. Proses jarak jauh bukan hanya tantangan produksi, tapi juga elemen yang membentuk karakter sound menjadi lebih hening, terasa renggang, dan reflektif,” kata Dava saat dihubungi Pophariini (02/03).

Secara tema, Left Me Lost lahir dari pengalaman yang sangat personal. Narasinya tidak sekadar membicarakan kehilangan dalam arti literal, tetapi juga hilangnya koneksi emosional yang perlahan mengikis identitas diri. Lirik yang ditulis Dava bersama Chelsey menjadi medium untuk merangkum fase tersebut.

“Ya, awalnya sangat personal. Ada fase di mana kehilangan seseorang yang bukan hanya secara fisik namun juga secara emosional. Hal inilah yang menjadikan titik awal lahirnya narasi pada EP ini. Kami juga berusaha membuat seakan karya kami dapat menjadi media penyaluran ekspresi,” ucap Dava.

Kini, Reconcile membuka diri untuk membawa Left Me Lost ke ruang-ruang kolektif di Malang dan sekitarnya. Bagi mereka, yang terpenting bukan sekadar panggung, melainkan kesempatan untuk berbagi keresahan secara jujur dengan audiens yang mungkin pernah merasakan kehilangan, tersesat, dan masih berusaha menemukan jalan pulang.