Saham EXCL Alami Kerugian Rp4,42 Triliun, Prospek Pemulihan Terlihat di 2026
Sumber Foto: Ajaib
Ekonomi

Saham EXCL Alami Kerugian Rp4,42 Triliun, Prospek Pemulihan Terlihat di 2026

Saham EXCL menjadi perhatian pasar setelah emiten telekomunikasi hasil merger XL Axiata dan Smartfren ini membukukan rugi bersih Rp4,42 triliun pada 2025, berbalik dari laba Rp1,81 triliun pada 2024. Lonjakan beban hingga Rp43,5 triliun atau naik 52,21% secara tahunan menjadi salah satu faktor utama yang menekan kinerja, meskipun pendapatan tumbuh 23,42% menjadi Rp42,4 triliun. Kondisi ini membuat sejumlah analis, termasuk JP Morgan, melanjutkan pandangan konservatif terhadap saham EXCL.

Kinerja EXCL dan Tantangan ke Depan

Dari sisi operasional, EXCL mencatat total pelanggan sebanyak 73 juta sepanjang 2025. Namun, jumlah pelanggan nirkabel turun 8% secara kuartalan dan pelanggan fixed broadband (FBB) turun 1% secara kuartalan serta 9% secara tahunan menjadi 0,94 juta. Di sisi lain, Average Revenue Per User (ARPU) kuartal IV/2025 meningkat menjadi Rp44.800 dari Rp38.900 pada kuartal sebelumnya, mencerminkan efektivitas strategi monetisasi data dan penyederhanaan produk. Meski demikian, ARPU tahunan 2025 masih lebih rendah dibanding 2024, yaitu Rp39.500 dari Rp42.600.

Pendapatan utama EXCL masih ditopang jasa GSM mobile dan jaringan telekomunikasi sebesar Rp41,91 triliun, dengan kontribusi terbesar dari data dan layanan digital Rp38,5 triliun. Perusahaan juga agresif memperluas infrastruktur dengan mengoperasikan 225.649 BTS hingga akhir 2025, termasuk 4.864 BTS 5G yang sebelumnya belum tersedia pada 2024. Ekspansi ini diharapkan memperkuat kualitas layanan, meskipun berdampak pada kebutuhan belanja modal 2026 sebesar Rp15–20 triliun yang berpotensi membuat arus kas bebas negatif.

JP Morgan memberikan rating underweight dengan target harga Rp1.600, mencerminkan kehati-hatian atas risiko kehilangan pangsa pasar, terutama jika dibandingkan pesaing seperti ISAT yang mencatat pertumbuhan pendapatan nirkabel lebih tinggi. Namun demikian, konsensus analis masih memproyeksikan pendapatan 2026 tumbuh 9,55% menjadi Rp46,49 triliun dan laba bersih berbalik positif menjadi Rp98,20 miliar. Target harga rata-rata 12 bulan berada di Rp3.614,26 atau potensi return sekitar 26,4% dari harga tertentu, menunjukkan adanya perbedaan pandangan di pasar.

Ke depan, fokus EXCL akan tertuju pada keberhasilan strategi monetisasi data, integrasi jaringan pasca merger, serta pengendalian biaya agar profitabilitas dapat pulih. Dengan dinamika industri telekomunikasi yang kompetitif, pergerakan saham EXCL akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan perseroan mempertahankan pelanggan sekaligus meningkatkan kualitas layanan di era 5G.

Mulai Strategi Investasi Saham Kamu Sekarang

Melihat dinamika saham EXCL, penting bagi kamu untuk tidak hanya terpaku pada sentimen jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan fundamental, proyeksi kinerja, serta risiko yang ada. Gunakan momentum pasar secara bijak dan susun strategi yang sesuai dengan profil risiko kamu. Melalui Ajaib, kamu bisa memantau pergerakan saham secara real-time dan mulai investasi saham dengan lebih praktis, aman, serta terencana.