SonicFlo: Kolaborasi Tiga Generasi dalam Musik Pop Alternatif
Sumber Foto: Pophariini
Hiburan

SonicFlo: Kolaborasi Tiga Generasi dalam Musik Pop Alternatif

Kutipan News - •

Rasanya cocok untuk menyematkan predikat ‘gitaris atau musisi bunglon’ kepada sosok Coki Bollemeyer. Bagaimana tidak, ia tercatat pernah menorehkan skill-nya di sejumlah proyek musik seperti DeadSquad, Darksovls, BongaBonga, Sunyotok, Base Jam, dan Blackteeth. Sampai sekarang pria berjanggut ini pun masih tercatat sebagai gitaris NTRL sejak tahun 2002 silam.

Jika dilihat dari proyek-proyek musik yang pernah melibatkan Coki, benang merahnya bisa terasa, tidak jauh-jauh dari musik berdistorsi yang memang menjadikan gitar sebagai primadona di aransemen lagu-lagunya. Seperti belum puas melepas dahaga bermusik, Coki kembali membangun entitas musik anyar di tahun 2026 ini.

Namanya adalah SonicFlo, band pop alternatif yang punya nuansa musik 80-an yang kuat, di mana Coki berkolaborasi dengan dua musisi muda, Boyi Tondo dan Daffa Bagaskara. Saat mendengar kabar tentang band baru Coki, saya langsung beranjak ke laman YouTube untuk mendengarkan single perdana mereka, “Rayu Membiru”.

Tentu ada perasaan segar begitu mendengar proyek terbaru Coki ini karena setelah sekian lama melihatnya beraksi dengan identitas musik bernapas rock dan sekitarnya, ia hadir dengan SonicFlo yang lebih danceable dan new wave-ish.

Hadirnya SonicFlo menggerakkan Pophariini untuk mencari tau lebih dalam soal terbentuknya band ini, tentu jalan satu-satunya adalah mampir menemui para personelnya yang memang sedang dalam rangkaian promo single “Rayu Membiru”.

Pertemuan akhirnya terlaksana di kediaman Coki tanggal 21 Februari 2026. Siang itu, kami disambut baik oleh ketiga personel yang sudah lebih dulu tiba. Tak hanya personel, kami juga disambut berbagai hewan peliharaan yang ada di kediaman Coki, seperti anjing, kucing, dan yang paling membuat waswas saat memasuki ruangan, ular.

Sebagai orang yang punya ketakutan terhadap hewan melata itu, ketegangan untuk melakukan sesi wawancara praktis tak terhindarkan. Setelah diberi jaminan keamanan kalau ular tersebut tak akan tiba-tiba keluar kandang, saya menyampaikan kekaguman terhadap kediaman Coki yang mampu menampung begitu banyak hewan.

“Di sini lebih banyak binatang daripada orangnya [tertawa],” canda Coki merespons saya.

Kalimat ini pun memantik tawa dalam ruangan yang cukup membantu memecah ketegangan. Sesi wawancara langsung dimulai dengan pertanyaan yang harus saya tujukan pada Coki lebih dulu, tentang apa tujuannya membuat band lagi, dan apakah karena band-bandnya selama ini masih belum memuaskan dahaga bermusiknya.

Tentunya kalimat pertanyaan saya yang terakhir langsung ditepis olehnya dan dilanjutkan dengan penjelasan tentang bagaimana SonicFlo adalah representasi cerita bermusik yang belum pernah ia ungkap dari perjalanan bermusiknya.

“Gue jadi ingat zaman kecil, Om-om gue pada pasang Queen atau Genesis. Nyokap gue tiap pagi (memutar) Janis Joplin seharian, yang gitu-gitu. Terus kena lah gue sama era-era synth wave atau new wave dan rock. Terus gue dengar akhir-akhir ini musik di Amerika sama di sini juga, itu orang pada pake synth lagi gitu loh, kayak zaman 80s gitu. Jadi bukan sesuatu hal yang baru, tapi emang selalu ada,” jelas Coki.

Jika menyimak formasi SonicFlo, ada satu hal unik yang menjadi daya tarik yaitu perbedaan generasi ketiga personelnya. Coki adalah musisi yang datang dari Generasi-X. Boyi Tondo yang kerap dikenal sebagai pemain bas NOAH, Andra & The Backbone, dan masih banyak lagi ini datang dari generasi Millenials. Daffa yang merupakan solois asal Bondowoso hadir sebagai perwakilan Gen-Z untuk menjadi bagian dari SonicFlo.

Perbedaan generasi ini terasa cukup wajar untuk saya melemparkan pertanyaan bagaimana sebenarnya mereka bisa bertemu sampai akhirnya membentuk SonicFlo. Daffa menjelaskan kalau pertemuan mereka terjalin berkat bantuan seorang teman bernama Ipe.

“Waktu itu emang masa-masa pencarian juga pengin bikin band dengan musik yang sekarang ini, cuma belum ketemu dengan orang-orangnya. Sampai akhirnya dikenalin sama Mas Ipe, katanya si Om Cok pengin bikin band lagi dengan musik sekarang. Singkat cerita, kami ketemuan. Kalau sama Mas Boy emang satu tongkrongan di Duren Sawit. Kami (Daffa & Boyi) mau ketemuan di sini pertama kali bareng Om Cok, ngobrol-ngobrol tujuannya apa, ya udah terbentuklah SonicFlo,” kenang Daffa.

Boyi punya kenangannya sendiri terhadap pertemuan mereka bertiga. Saat itu, Boyi merasa mereka langsung satu visi untuk menjalankan proyek ini, dalam arti meski semua punya selera dan referensi masing-masing terhadap musik-musik bernafas synth dan 80s, namun tetap punya satu benang merah genre yang sama.

“Kalau misalnya taste-nya gak sama kan bingung juga gitu mencari celahnya di mana. Kalau di sini kami tau tujuannya mau ke mana, mau bikin apa. Masih satu frekuensi, masih satu genre, masih bisa ketemu tengahnya,” ujar Boyi.

Obrolan Pophariini bareng SonicFlo berjalan dengan pembahasan bagaimana menyatukan kepala meski datang dari generasi berbeda, tentang single “Rayu Membiru”, sampai rencana perilisan album perdana yang kabarnya beredar setelah Lebaran. Simak lengkapnya di bawah ini.

Sejak awal bertemu kalian merasa langsung klik. Menurut kalian kenapa bisa langsung cocok bikin karya bersama, meski datang dari generasi berbeda?

Boyi: Taste musiknya. Contoh kayak Om Cok kan suka (musik) 80s, pop, synth-wave. Daffa suka LANY, 1975 gitu. Ya sebetulnya itu kayak musik yang diulang kan. Kalau gue suka Genesis, itu (pakai) synth juga, awal mula synth di situ kan. Kami suka pop juga kayak Toto sama Chicago. Makanya di sini ngalir aja gitu.

Menarik, karena pas kemarin dengerin “Rayu Membiru” sempat ada pikiran, ‘ Mereka mainin musik yang zamannya Coki banget ya. ’

Boyi: Gue basic-nya suka The Beatles. Ke sininya ya gue dengerin Genesis, Phil Collins, Emerson, Lake & Palmer (ELP). Sebetulnya selera gue juga jadul. Nah Daffa yang kekiniannya tuh.

Coki: Ya biar ngambil notasinya gak jadul. Gue larang dia (Daffa) soalnya, ‘ Lo jangan dengerin 80s deh, dengerin yang biasa lo dengerin aja.’

Berarti walaupun beda era, SonicFlo mengambil benang merah tren musik synth yang berulang tadi itu ya?

Coki: Iya. Makanya gue perhatiin kan di US udah 5 tahun terakhir ke arah 80s semua tuh synth-nya. Di Indonesia juga udah agak mulai creep up juga nih, ya gue masuk di situ lah.

Kenapa kalian memutuskan ngerilis “Rayu Membiru” sebagai peluru awal SonicFlo?

Daffa: Waktu itu kami ngadain hearing session, datengin beberapa orang dan tanya pendapat mereka setelah dengerin sembilan lagu, dan “Rayu Membiru” ini jadi Top 3 pilihan teman-teman.

Coki: Nomor satu justru dia.

Daffa: Oh, nomor satu ya? Iya, itu alasan utamanya sih.

Sempat baca siaran pers kalau lagu “Rayu Membiru” liriknya diciptakan Boyi tentang perjalanan spiritual yang personal. Pengalaman apa sih yang memengaruhi penulisannya?

Boyi: Di sini gue banyak pertanyaan. Ya kalau anak zaman sekarang tuh kan banyak teori konspirasi lah. Gue juga bingung ya ngomongnya terlalu detail ntar repot kan.

Daffa: [tertawa].

Coki: [tertawa] Nanti depan rumah didemo.

Boyi: Jatuhnya konyol ya kan. Maunya main musik doang jadi konyol. Intinya, kebanyakan pertanyaan tentang ‘ Y ang bener yang mana sih? ’ gitu. Kok orang atau manusia pada jahat banget sih, agama dibuat jadi alat politik atau dibuat apaan, jadi konspirasi. Kalau gue mikirnya gitu, yang bener tuh yang mana gitu. Gue pengin direct ke Dia aja, gak mau campur tangan manusia gimana sih? Gue merindukan itu. “Rayu Membiru” tuh artinya orang yang memohon dengan sangat. Begging dia.

Coki: Udah ‘ Blue Balls’ gitu, udah di ujung. Salah ya? [tertawa].

Bisa disimpulkan gaya bermusik SonicFlo itu referensinya klasik tapi pendekatannya modern. Gimana cara kalian menjaga keseimbangan untuk proses produksi dan aransemen lagu? Coki: Terutama di produksi sih. Kalau aransemen, arrange-nya juga pake synth, gue juga kadang-kadang ngisi-ngisi guide-nya pake synth, maksudnya emang kebetulan seneng hal yang sama. ‘ Di tempat gue aja, Om,’ kata Boyi. ‘ Gue banyak nih layer-layer-nya. ’ Udah di tempat dia ngisinya, pas kami dengerin, ‘ Udah dapet nih udah. ’

Boyi: Balik lagi ke yang tadi Om ya, taste-nya, bareng-barengnya. Cara kami ngolah lagu juga tuh ternyata mirip, tinggal jalan aja kayak gitu.

Coki: Prosesnya tuh biasanya ke sini, bikin basic, abis itu dengerin, bawa pulang, udah deh dari situ kirim-kiriman data. Udah ada demo sembilan lagu, take drum langsung.

Sebagai Gen-Z yang generasinya lagi aktif di era ini, ada gak masukan-masukan dari Daffa saat penggarapan sembilan lagu, khususnya “Rayu Membiru” ke Coki dan Boyi?

Daffa: Lebih ke karakter sih, gue lebih ngeluarin karakter yang gue punya ke SonicFlo. Selebihnya jadi diri sendiri aja.

Boyi: Yang dibawa Daffa tuh lebih ke catchy-nya zaman sekarang.

Coki: Dari gue mungkin spesifiknya hook-hook-nya anak sekarang. Dari notasi vokalnya sama cara penyebutannya. Gue pengin dia membawa yang bukan dari era gue.

Boyi: Cara nyanyi terutama. Contoh ada satu lagu, gue sama Om Cok mikir kayak Duran Duran banget nih. Tapi Duran Duran cara nyanyinya lantang sekali kan, nah Daffa jangan kayak gitu, tetap LANY, 1975 gitu.

Daffa: Karena emang lagi senang dengerin lagu-lagu kayak gitu kan, The Weeknd terus Post Malone.

Coki: Jadi gue gak mau ngerubah karakternya yang dia udah punya. Maksud gue, itu tolong lo bawa ke sini, masukin ke sini. Tapi pas begitu dibawa gak ada yang harus disesuaikan, emang langsung cocok aja.

Jadi penasaran, gimana sih cara kalian menjaga agar perhatian ke SonicFlo itu gak berpusat ke Coki dan Boyi yang udah lebih dulu berkarier?

Boyi: Kalau dari gue, nanti kalau album udah rilis akan kelihatan kok bahwa kami tuh bareng-bareng. Karena jujur, udah banyak yang dengerin materi album, malah gak nyangka Om Cok keluar dari jalurnya. Dan kayak “Rayu Membiru”, sebetulnya poinnya bukan di gitar loh, poinnya di synth-nya. Itu kan kayak pergeseran. Tapi ada juga entar lagu-lagu kayak habis Lebaran nih kami mau keluarin album kan. Nah single pertama dari album itu Om Cok ada melodinya. Jadi karena basic-nya 80s tadi, Om Cok itu lebih ke filler di sini cara mainnya, ngisi aja.

Coki: Sesuai dengan eranya.

Boyi: 80s begitu kan. Gitarnya ngisi-ngisi kayak seolah-olah dia nempelin vokal banget.

Coki: Iya, gue jadi counter melody lah bahasanya. Kalau di 80s itu sampai sekarang sih, musik-musik kayak gini gitar tuh nyari hook-nya kan. Di mana lo bisa masukin suatu hal yang simpel, tapi kalau orang dengar lagunya, part itu harus ada.

Boyi: Kalo orang ngulik lagi lagu itu, harus ada part itu.

Coki: Walaupun cuma gitu-gitu doang, (part) itu gak ada, gak bisa. Itulah tugas gue, lebih berat sebenarnya, nyari momennya harus pas, fill-nya harus enak, kalau gak enak kedengeran banget.

Apa itu alasannya Coki juga memangkas jenggot biar kelihatan lebih rapi di SonicFlo? Soalnya itu kesan pertama saya pas lihat videoklip “Rayu Membiru”.

Coki: [tertawa] Gak sih, ini karena udah ganggu aja. Tadinya sih awur-awuran banget. Tapi gak mungkin juga kalau promo SonicFlo gue kayak monster.

Nah berarti penyesuaian kostum dan tampilan jadi poin penting ya saat kalian membentuk SonicFlo?

Semua: Iya, penting.

Boyi: Balik ke konsep awal, supaya lebih catchy lah. Kami bertiga penginnya SonicFlo punya jati diri sendiri-sendiri yang mudah-mudahan nanti mungkin bisa jadi tren. Jadi orang gak perlu melihat SonicFlo-nya, dengan bajunya yang ada aja udah tau, ‘ Oh, ini SonicFlo nih, ’ gitu sih harapannya.

Referensi berpakaian kalian di SonicFlo ini dikonsepin seperti apa supaya bisa menunjang musik yang kalian bawakan? Coki: Waktu itu kami ada Art Director-nya, namanya Bonita. Terus stylist-nya si Geges, bininya Daniel (Mardhany). Ya udah mereka deh, si Bonita yang kasih color palette, habis ngobrol sama kami, terus kami oke. Geges nyariin model bajunya kayak gimana, ya udah kami pakai.

Boyi: Tadinya kami kan, terutama gue sama Om Cok serba hitam ya. Akhirnya karena SonicFlo, kalau keluar rumah coba pakai earth tone.

Terasa natural gak dengan perubahan penampilan demi SonicFlo?

Boyi: Butuh penyesuaian sih awal-awalnya [tertawa].

Coki: Kalau gue sih (identik dengan) hitam-hitam karena dikasih ya dulu. Bukannya gimana, gue tuh hampir 10 tahun gak pernah beli kaus, karena kaus band sendiri sama kaus bandnya teman-teman udah nutup banget buat manggung, buat apa segala. Itu lemari gue hitam semua. Nah, udah tiga tahun terakhir ini agak gue warnain. Sejak ada BongaBonga lumayan macam-macam tuh warnanya. Gue jadi, ‘ Ih, lucu juga ya warna lain. ’ gitu.

Karena di sini banyak gitar, berarti untuk SonicFlo gitar ‘ tajem-tajem ’ ini udah gak kepakai dong?

Coki: Masih. Eranya dong, kan 80s, pengin sound 80s, jadi pakai gitar-gitar yang superstrat, yang crystal clean gitu. Sound clean-nya 80s juga beda-beda, di situ paling yang agak silit eh, sulit [tertawa].

Setelah Lebaran SonicFlo bakal rilis album penuh perdana judulnya Perdebatan. Apa alasan kalian hadir dengan judul itu, apa karena prosesnya memang penuh perdebatan?

Daffa: Karena memang dari sembilan lagu yang kami produksi itu benang merahnya tentang itu. Problematika-problematika yang terjadi di kehidupan kita ya.

Boyi: Kayak “Rayu Membiru” kan perdebatan dengan diri sendiri tuh. Nanti ada perdebatan dengan pasangan, orang tua, jadi benang merahnya semua lagu itu tentang perebatan.

Sepenangkapan saya tentang musik 80-an kan biasanya lirik-lirik lagunya kebanyakan tentang topik-topik happy. N ah album Perdebatan ini kalian membawa topik yang cukup serius dengan bungkusan musik yang ringan ya?

Coki: Iya benar. Liriknya tuh memang dicari yang relate sama banyak orang lah. Kenapa jadi (judulnya) Perdebatan, karena emang isinya-di luar kesadaran kami-liriknya emang tentang perdebatan gitu.

Daffa: Lebih ke apa yang kami pernah rasain aja sih bukan harus serius kayak gimana, tapi jujur aja ya, apa yang pernah kami alami, kami tumpahkan ke karya kami di album ini.

Gimana cara kalian mix lirik yang serius tersebut ke musik yang easy listening?

Coki: Hmm.. Susah nih ya [tertawa]. Soalnya musti dengar lagunya dulu baru akan, ‘ Oh iya, oke. ’

Boyi: Sebetulnya kalau ditanya kayak gitu, liriknya itu bahasa sehari-hari. Segala hal yang serius itu kan termasuk bahasanya. Maksudnya gue ngomong serius sama lo, tapi karena kita teman atau kita ngomong becanda, tapi karena kita kolega, beda lagi kan. Kayak misalnya lagu “Perdebatan” yang akan ada di album ini, perdebatan tentang masalah sehari-hari, perdebatan sama pasangan lah, langsung ditumpahin aja gitu. Jadi gak akan jadi berat atau seperti apa. Kayak “ Rayu Membiru ” kan banyak orang juga mengertikan itu untuk pasangan tuh, untuk orang yang dikagumi.

Coki: Apa lagi (lagu) itu tuh. Apa? “Tercinta untukku…”

Boyi dan Daffa: “…Terlelap Dengannya” [tertawa].

Coki: Seru kan? [tertawa].

Oke gue tau kalau kalian jujur dalam menulis lirik di album Perdebatan, tapi apakah tema-tema itu sengaja juga diangkat supaya lebih relate dengan tema-tema lagu yang tren saat ini?

Boyi: Enggak sih, itu benar-benar keluar sendiri.

Daffa: Mengalir. Kan SonicFlo, jadi flow.

Coki: Iya, betul.

Bener juga, sebenarnya ini pertanyaan paling haram buat ditanyain ke band, tapi berhubung kalian band baru jadi saya tanya aja deh. Kenapa namanya SonicFlo?

Daffa: Bingung kan waktu itu mau cari nama apa. Nama grupnya aja ‘Sop Buntut Seger’ [tertawa].

Coki: Gue tadinya mau ‘Sonic Love’, 80s banget kan. Terus taunya IP-nya udah banyak orang yang pakai. Terus gue nyari ‘Sonic Flow’, gua suruh cari AI, ‘ Lo cariin ini udah ada yang pake belum? Jangan pake ‘W’ tapi, SonicFlo aja.’ Ternyata belum ada, langsung gue bikin YouTube-nya segala macam.

Apa yang menarik dari nama SonicFlo?

Coki: Aliran frekuensi lah. Vibe manusia. Good vibes, good music, SonicFlo.

Jadi apa sih yang paling ingin kalian sampaikan lewat sembilan lagu dalam album Perdebatan nanti?

Boyi: Dari gue pribadi yang ingin disampaikan, ini loh SonicFlo, lagunya seperti ini. Tidak menutup kemungkinan kami ke depannya akan explore, karena dari sembilan lagu ini sebetulnya ada banyak musik yang bisa kami tawarkan. Bisa dibilang banyak genre yang kami tawarkan, tapi kalian masih bisa dengar ini benang merahnya dan akan sangat lebar untuk kami bisa explore musikal SonicFlo itu untuk ke depannya.

Coki: Pokoknya album rilis dulu.

Balik ke Coki, berbekal pengalaman ngeband lo selama ini, apa hal yang lo terapin di SonicFlo atau yang gak akan lo terapin di band ini? Coki: Belum pernah sih yang kayak SonicFlo ini belum pernah. Terus yang gue mau lakukan mirip-mirip indie label, entar hasil semuanya dibagi tiga, yang gitu-gitu. Jadi benar-benar DIY. Dibilang DIY iya, dibilang gak, ya gitu. Tetap butuh bantuan banyak orang lah kalau di awal-awal fase band ini. Gue lagi berusaha untuk mempelajari zaman sekarang gimana sih game-nya.

Kalau dari Daffa dan Boyi, gimana kalian mengimbangi Om Cok dari sisi di luar bermusiknya?

Boyi: Gue gak perlu mengimbangi justru karena percuma ngimbangin Om Cok. Maksudnya kami kan seband ya, cuma kami punya usaha masing-masing supaya si SonicFlo ini maju nih. Contohnya, yang baru kami lakukan bikin persona masing-masing, Daffa dengan personanya, gue dengan persona gue. Kami jalan masing-masing untuk SonicFlo-nya karena kami seband. Gimana caranya biar SonicFlo bisa produktif terus sampai dikenal banyak orang.

Daffa: Justru musik tidak mengenal umur kan ya, kita semua bisa berkarya dengan siapa aja. Dan kebetulan kami bertiga tuh nongkrongnya asik banget, ya lo tau sendiri kan Om Cok kayak gimana. Jadi sangat memudahkan gue pribadi untuk menyesuaikan, biar chemistry-nya dapat.

Berarti gap itu memang gak pernah ada ya?

Boyi: Oh gak. Apalagi dalam bermusik ya. Dari awal ada butuh penyesuaian mungkin, namanya band baru, tapi kalau gap sama sekali gak ada. Balik lagi, ya namanya anak tongkrongan. Ya pasti ada lah senior/junior di tongkrongan, tapi saling respect aja. Bukan berarti senior tidak menghargai junior kan. Kalau ada yang gitu mah, ah… Gimana Om?

Coki: Gue gak tau ah.

Boyi dan Daffa: [tertawa].

Konten media sosial SonicFlo juga jalan banget kalau disimak. Gimana Coki mengikuti keharusan ngonten di zaman sekarang? Coki: Ya harus. Mau gak mau harus ngikut karena sekarang televisinya di tangan kita loh. Zaman gue ada TV tabung sampai flat, sekarang gak kepakai. Terus sekarang kita nonton dan cari informasi di tangan kita semua. Ya mau gak mau, kalau mau kelihatan harus agak sering bikin sesuatu, maksudnya posting, apa lah. Makanya sekarang gue kayak, ‘ Posting apa gue, lagi berak? ’. Terus dijawab, ‘ Terserah Om, yang penting bikin aja terus.’ [tertawa].

Daffa: Kami tim udah ada juga, jadi sharing-nya di situ.

View this post on Instagram

A post shared by Daffaskara (@daffaskaraaa)

Album akan keluar setelah Lebaran, bakal cari panggungan, ada lagi yang mau ditambahin dari SonicFlo?

Coki: Ditunggu aja. Kalau showcase belum kali ya, mungkin akan langsung nyari gigs. Gigs apa aja udah.

Boyi: Mudah-mudahan bisa dinikmati banyak orang.

Penulis

Gerald Manuel

Hobi musik, hobi nulis, tapi tetap melankolis.

Artikel lain dari penulis →

Tags

Boyi Tondo

Coki Bollemeyer

Daffa Bagaskara

Perdebatan

Rayu Membiru

SonicFlo

Subscribe

Login

1 Comment

kuwah

2 months ago

keren banget musiknya gan, nitip yah unduh lagu terbaru

Reply

Artikel Terkait

Sehidup Semusik

Rilis Singel Disaat Kau Berubah, Dadali Konsisten di Jalur Pop Melankolis

Raihan Adianta • Jun 4, 2026

Sehidup Semusik

5 Pertunjukan Spesial yang Wajib Ditonton di myBCA International Java Jazz Festival 2026

Gerald Manuel • May 28, 2026

Sehidup Semusik

Jordan Susanto Lepas Nervous dan Such A Shame Menuju Album Kedua

Raihan Adianta • May 27, 2026

Eksplor konten lain Pophariini

Bising Kota

Esai Bising Kota

Essay

Feature

Irama Kotak Suara

KALEIDOSPOP 2025

Kolom Kampus

Musisi Menulis

News

Papparappop

POP LIFE

Review

Sehidup Semusik

Videos

WaraPop

News

Gerald Manuel • Jun 4, 2026

Dari Roblox ke Platform Streaming, Pocket Singer Akhirnya Rilis Balikan

Pocket Singer resmi memperkenalkan diri lewat singel perdana “Balikan” yang rilis pada 15 Mei 2026. Solois bernama asli Sean ini mengangkat tema tentang keinginan untuk kembali menjalin hubungan dengan seseorang yang pernah hadir dalam …

News

Gerald Manuel • Jun 4, 2026

Hei Rio Angkat Isu Kesehatan Mental dan Cyberbullying di Singel Perdana Silaturahmi Jahat

Musisi independen asal Bekasi, Hei Rio resmi memperkenalkan singel perdana “Silaturahmi Jahat”. Lagu ini rilis tanggal 8 Mei 2026 untuk menjadi pembuka atau Level 1 dari proyek album mini Sisa Sisa Sia, sebuah rangkaian …