TNWK Belum Terima Informasi Wisata Eksklusif Tarif Tinggi
Kutipan News - Pengelola Taman Nasional Way Kambas (TNWK) mengaku belum menerima informasi resmi terkait rencana pengembangan wisata eksklusif di kawasan konservasi tersebut.
Humas TNWK, Riri Fitriandi, menegaskan hingga kini pihaknya belum mendapatkan pemberitahuan soal rencana dimaksud.
“Saya belum ada info terkait itu. Rencana (kawasan) masih akan dibuka kembali kok, sementara petugas masih fokus penanganan konflik gajah dan pengamanan kawasan hutan,” ujar Riri saat dikonfirmasi pada Minggu (22/2/2026).
Isu yang beredar menyebutkan akan ada pengembangan wisata eksklusif dengan konsep seperti di sejumlah negara Afrika. Dalam skema itu, wisatawan disebut-sebut akan dikenakan tarif hingga 14.000 dolar AS per paket, termasuk menginap di resort di dalam kawasan taman nasional serta tur melihat satwa liar seperti gajah, harimau, dan primata.
Tak hanya itu, rencana tersebut juga dikaitkan dengan proyek perdagangan karbon melalui dua mekanisme, yakni rehabilitasi kawasan hutan dan perlindungan hutan. Skemanya, investor menanam dan merehabilitasi hutan yang rusak, lalu menghitung serapan karbon (CO2) untuk diperjualbelikan di pasar karbon sukarela.
Beredar pula informasi adanya wacana perubahan zonasi menjadi zona pemanfaatan untuk mengakomodasi pembangunan resort dan aktivitas perdagangan karbon. Bahkan muncul kekhawatiran akan dibangunnya landasan helikopter di dalam kawasan untuk menunjang mobilitas wisatawan premium, yang dikhawatirkan memicu kebisingan dan mengganggu satwa liar.
Di sisi lain, pemerintah pusat juga telah mengalokasikan dana sekitar Rp2 triliun dari APBN untuk penanganan konflik gajah dan manusia di sekitar Way Kambas. Anggaran tersebut antara lain diarahkan untuk pembangunan tanggul pembatas antara permukiman warga dan kawasan taman nasional guna meminimalisir konflik satwa.




