Analisis Kaidah Kebahasaan Novel 'Kemelut di Majapahit' untuk Kelas 12
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 12 di SMA, SMK, dan MA, terdapat materi penting yang membahas analisis kaidah kebahasaan dalam novel sejarah. Salah satu novel yang menjadi fokus adalah 'Kemelut di Majapahit'. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai kunci jawaban yang terdapat pada halaman 63 buku Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 edisi revisi 2018.
Materi Pembelajaran
Materi ini bertujuan untuk membantu siswa dalam memahami kaidah kebahasaan yang terdapat dalam novel tersebut. Pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis teks dan memahami konteks sejarah yang diangkat dalam novel.
Kunci Jawaban Halaman 63
Siswa diminta untuk membaca kutipan dari novel 'Kemelut di Majapahit' dan menganalisis kaidah kebahasaan yang ada. Berikut adalah beberapa contoh kalimat bermakna lampau yang terdapat dalam kutipan:
- Kutipan 1: "Dan hubungan antara junjungan ini dengan para pembantunya, sejak perjuangan pertama sampai Raden Wijaya menjadi Raja, amatlah erat dan baik."
- Kutipan 2: "Mereka semua mengenal belaka sifat dan watak Ronggo Lawe, banteng Mojopahit yang gagah perkasa, dan selalu terbuka, polos dan jujur, tanpa tedeng aling-aling dalam mengemukakan suara hatinya, tidak akan mundur setapak pun dalam membela hal yang dianggap benar."
- Kutipan 3: "Kakang Ronggo Lawe, tindakanku mengangkat kakang Nambi sebagai patih hamangkubumi, bukanlah merupakan tindakan ngawur belaka, melainkan telah merupakan suatu keputusan yang telah dipertimbangkan masak-masak, bahkan telah mendapat persetujuan dari semua paman dan kakang senopati dan semua pembantuku."
- Kutipan 4: "Ronggo Lawe berkata lantang, 'Tentu saja tidak tepat! Paduka sendiri sathu siapa si Nambi itu! Paduka tentu masih ingat akan segala sepak terjang dan tindak tanduknya dahulu! Dia seorang bodoh, lemah, rendah bumi, penakut, sama sekali tidak memiliki wibawa...'"
- Kutipan 5: "Akan tetapi guncangan pertama yang memengaruhi hubungan ini adalah ketika Sang Prabu telah menikah dengan empat putri mendiang Raja Kertanegara, telah menikah lagi dengan seorang putri dari Melayu."
Dengan memahami contoh-contoh kalimat tersebut, siswa diharapkan dapat lebih mudah dalam menganalisis dan memahami kaidah kebahasaan yang terdapat dalam novel sejarah ini. Melalui pembelajaran yang komprehensif, diharapkan siswa dapat mengejar ketertinggalan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.




