DBL Academy Hadirkan Peluang Basket untuk Anak-Anak Kepulauan Seribu
LUDUS – Di wilayah yang lebih akrab dengan suara ombak ketimbang pantulan bola basket, sebuah pagi terasa berbeda. Lapangan di SMA Negeri 69 Jakarta, Kepulauan Seribu, tak sekadar menjadi tempat berkeringat, melainkan ruang pertemuan antara keterbatasan dan kemungkinan. Di sinilah DBL Indonesia, melalui DBL Academy, membawa sesuatu yang selama ini terasa jauh: atmosfer pembinaan basket pelajar yang biasanya hanya singgah di kota-kota besar.
Foto/Istimewa
Bagi anak-anak kepulauan, mimpi tentang basket sering kali tak tumbuh dari sorak tribun, melainkan dari jarak—jarak antara pulau dan kota, antara keinginan dan kesempatan.
Basketball Clinic Kepulauan Seribu bukan sekadar agenda pelatihan. Ia hadir sebagai penanda bahwa peta pembinaan olahraga pelajar Indonesia mulai digambar ulang. Wilayah yang selama ini berada di pinggir kalender liga basket pelajar akhirnya disentuh, bukan oleh kompetisi besar, melainkan oleh hal paling dasar: pengenalan dan kepercayaan diri.
Berkolaborasi dengan Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) serta Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta, kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 4 Februari 2026 ini menjadi yang pertama digelar secara khusus bagi pelajar SMP dan SMA di Kepulauan Seribu. Sekitar 40 peserta—20 siswa SMAN 69 Jakarta dan 20 siswa SMPN 113 Jakarta—datang bukan dengan ambisi gelar, melainkan rasa ingin tahu yang lama tertahan.
Basketball Clinic dimulai pukul 10.00 WIB, di bawah matahari yang tak memberi kompromi. Namun panas rupanya bukan penghalang. Seluruh rangkaian kegiatan dipimpin langsung oleh jajaran pelatih DBL Academy, termasuk Basketball Director DBL Academy, Dimaz Muharri. Baginya, momen ini bukan rutinitas, melainkan sejarah kecil yang layak dicatat.
Foto/Istimewa
“Hari ini pertama kali dalam sejarah basket Jakarta, Perbasi Jakarta dan Perbasi Kepulauan Seribu mengadakan Basketball Clinic di SMA Negeri 69 Jakarta, Kepulauan Seribu,” ujar Dimaz, menandai peristiwa yang mungkin sederhana di atas kertas, tetapi bermakna besar bagi mereka yang mengalaminya.
Materi latihan yang diberikan jauh dari kata rumit. Tak ada skema ofensif kompleks atau istilah teknis berlapis. Para pelatih memilih kembali ke akar: basic dribble, basic passing, basic shooting, hingga layup. Keputusan itu lahir dari observasi langsung di lapangan—sebuah pendekatan yang menghormati proses, bukan memaksakan target.
“Kurang lebih ada 40 peserta, cowok dan cewek. Karena kita lihat semuanya masih basic, jadi hari ini kita kasih yang fundamental basket banget,” kata Dimaz.
Yang menarik, antusiasme peserta justru tumbuh dari kesederhanaan itu. Minimnya agenda basket sebelumnya membuat kehadiran Basketball Clinic terasa seperti kunjungan yang lama dinanti. Tidak ada rasa sungkan. Tidak ada takut salah. Anak-anak itu berlari, mencoba, tertawa, dan jatuh—lalu bangkit lagi.
Di tempat seperti ini, basket bukan sekadar olahraga, melainkan bahasa baru untuk menyebut harapan—tentang diri mereka, tentang kemungkinan hidup yang lebih luas dari garis pantai.
“Cukup kaget sih. Cuaca lagi panas-panasnya, tapi mereka sangat excited. Mungkin karena pertama kali Basketball Clinic ke sini, jadi mereka nggak malu-malu walaupun belum bisa basket,” ungkap Dimaz.
Di sela latihan, Dimaz sempat mengingatkan bahwa jalan menuju panggung besar sering kali dimulai dari tempat yang tak terduga. Ia mencontohkan kisah Muhammad Haikal Malik asal Bengkulu—nama yang kini dikenal sebagai bagian dari DBL Indonesia All-Star, meski tak pernah mencicipi liga DBL sejak awal.
“Dia nggak ikut DBL liga, tapi ketemu di event Basketball Clinic. Dari situ, akhirnya dia ikut program DBL Play Road to DBL Camp musim lalu, dan akhirnya berangkat ke Amerika sebagai DBL All-Star,” kenang Dimaz.
Kisah itu bukan sekadar motivasi. Ia adalah pengingat bahwa talenta tak selalu lahir di pusat perhatian. Kadang ia tumbuh di tempat yang selama ini luput dari radar.
Foto/Istimewa
Bagi DBL Academy, Basketball Clinic Kepulauan Seribu adalah pintu pembuka, bukan tujuan akhir. Kegiatan ini menjadi cara untuk menanamkan budaya latihan, memperkenalkan disiplin olahraga, dan—yang tak kalah penting—menumbuhkan keberanian untuk bermimpi.
“Kami percaya bahwa melalui kegiatan ini, kami dapat menjangkau lebih banyak pelajar di Kepulauan Seribu dan mendorong mereka untuk mengembangkan minat dalam olahraga basket,” tegas Dimaz.
Komitmen itu bukan jargon. DBL Academy selama ini memosisikan diri sebagai rumah bagi anak-anak Indonesia yang ingin mengasah kemampuan basket, dengan semangat “Where Champions Begin. ” Bukan sekadar mencetak pemenang, tetapi meruntuhkan batas geografis, sosial, dan psikologis yang kerap membatasi mimpi anak bangsa— Breaking the Barrier, seperti yang mereka gaungkan.
Foto/Istimewa
Langkah berikutnya sudah disiapkan. DBL Academy dijadwalkan membuka kelas perdana di Asya, Jakarta Timur, pada Mei 2026. Namun jauh sebelum gedung baru berdiri, benih-benih mimpi telah lebih dulu ditanam—di sebuah pulau yang selama ini hanya melihat basket dari kejauhan.
Mimpi anak-anak Kepulauan Seribu mungkin tak pernah dibentuk oleh lampu arena besar, tetapi justru ditempa oleh kesabaran menunggu giliran—dan keberanian untuk percaya bahwa pulau pun berhak punya panggung.
Di Kepulauan Seribu, bola basket kini tak lagi asing. Ia telah mendarat, memantul, dan—siapa tahu—suatu hari akan membawa salah satu dari anak-anak itu berlayar lebih jauh dari yang pernah mereka bayangkan. (**)
Silakan kunjungi LUDUS Store untuk mendapatkan berbagai perlengkapan olahraga bela diri berkualitas dari sejumlah brand ternama.
Anda juga bisa mengunjungi media sosial dan market place LUDUS Store di Shopee (Ludus Store), Tokopedia (Ludus Store), TikTok (ludusstoreofficial), dan Instagram (@ludusstoreofficial)




