Inovasi di Lapas Kelas II A Tenggarong: Membangun Bengkel Kerja untuk Produk Publik
TENGGARONG – Di balik tembok penjara yang kokoh, kreativitas dan inovasi tetap dapat berkembang. Hal ini disampaikan oleh Zairin Zain, Kepala Subseksi Kegiatan Kerja (Giatja) Lapas Kelas II A Tenggarong, yang memiliki visi untuk menjadikan bengkel kerja (bengker) di lapas ini sebagai tempat yang tidak hanya menghasilkan produk untuk masyarakat sekitar, tetapi juga dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
“Saya menginginkan produk bengker ini bisa go publik,” ungkap Zairin dalam wawancaranya. Meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan, baik dari segi ruang produksi maupun fasilitas, semangatnya untuk berinovasi tetap tinggi. Sejak ditetapkan sebagai medium security yang berorientasi pada produksi, bengker Lapas Kelas II A Tenggarong terus melakukan berbagai pembenahan dan memaksimalkan sumber daya yang ada.
Salah satu produk unggulan yang dihasilkan adalah kursi lipat multifungsi, yang kini telah menerima pesanan dari Pulau Jawa. “Walaupun kami saat ini hanya memiliki satu produk unggulan, kami tidak ingin berhenti di sini,” tambah Zairin. Untuk itu, pihaknya berkomitmen memberikan pelatihan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) melalui berbagai paket kegiatan.
Pelatihan Kemandirian dan Inovasi
Pada tahun 2022, Lapas Kelas II A Tenggarong memperoleh 24 paket kegiatan pelatihan, di mana 12 paket telah dilaksanakan dan sisanya masih menunggu petunjuk dari pusat. Pelatihan tersebut dirancang untuk mendukung program unggulan yang ada serta menciptakan inovasi baru, termasuk renovasi kursi, pelatihan konveksi, dan desain grafis.
Zairin juga mengungkapkan rencana untuk mengadakan pelatihan konten kreator dan pembuatan film bagi WBP. “Saya yakin pasti ada WBP yang memiliki potensi dalam bidang ini, melihat respon positif terhadap film yang pernah dibuat di dalam lapas, di mana banyak pemain figuran merupakan napi,” jelasnya.
Pendapatan Negara Bukan Pajak
Agus Dwirijanto, Kepala Lapas Kelas II A Tenggarong, melaporkan bahwa hingga 30 Mei, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari hasil bengker mencapai Rp 8.500.000. Agus berharap angka ini dapat meningkat menjelang akhir semester kedua sesuai target yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
Dia juga mengakui bahwa perolehan PNBP ini dipengaruhi oleh kondisi bangunan yang tidak representatif, yang berdampak pada ketersediaan sarana dan prasarana pendukung. “Saya berharap segala kendala yang ada di bengker menjadi semangat untuk terus berkarya mewujudkan Pemasyarakatan yang produktif,” tutup Agus.




