Kontroversi Doa Menteri Pertahanan AS yang Terinspirasi dari Film Pulp Fiction
Sumber Foto: MetroTVNews.com
Kutipan Publik

Kontroversi Doa Menteri Pertahanan AS yang Terinspirasi dari Film Pulp Fiction

Washington: Doa yang dipimpin Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth dalam sebuah ibadah di Pentagon pada Rabu, 15 April 2026, telah memicu kontroversi yang meluas di masyarakat. Momen yang seharusnya menjadi refleksi spiritual bagi personel militer justru viral setelah publik menyadari kemiripannya dengan dialog ikonik dalam film Pulp Fiction.

Hegseth, yang secara rutin menggelar ibadah Kristen di Pentagon, memperkenalkan doa tersebut dengan istilah “CSAR 25:17,” yang merupakan singkatan dari Combat Search and Rescue dan merujuk pada ayat Alkitab Yehezkiel 25:17. Dalam doa tersebut, ia mengucapkan kalimat panjang yang menyebut “jalan penerbang yang jatuh dikelilingi oleh kejahatan manusia egois” hingga janji untuk “menjatuhkan pembalasan dengan kemarahan besar,” diiringi dengan istilah militer seperti “downed aviator” dan tanda panggilan “Sandy 1.”

Namun, banyak pendengar, terutama penggemar film era 1990-an, langsung mengenali bahwa kalimat tersebut mirip dengan monolog yang diucapkan oleh karakter Jules Winnfield, yang diperankan oleh Samuel L. Jackson dalam Pulp Fiction. Dalam film, monolog tersebut diucapkan sebelum karakter tersebut mengeksekusi targetnya, menjadikannya salah satu adegan paling ikonik dalam budaya pop Amerika.

Secara faktual, teks asli Yehezkiel 25:17 dalam Alkitab versi King James jauh lebih singkat dan tidak mengandung narasi dramatik seperti yang diucapkan oleh Hegseth. Bagian tambahan yang menggambarkan “menggembalakan yang tersesat” hingga “membalas dengan amarah” diketahui merupakan kreasi dari sutradara Quentin Tarantino dan penulis naskah Roger Avary untuk kebutuhan film.

Reaksi Publik

Video yang menampilkan momen tersebut dengan cepat menyebar di platform media sosial seperti X dan Reddit, memicu beragam respons dari publik. Sebagian pengguna merespons dengan humor, sementara yang lain memberikan kritik tajam.

Seorang pengguna Reddit menuliskan, “Tidak mungkin penulis pidatonya tidak sedang mempermainkannya,” sementara di X, seorang pengguna lain menyebut penggunaan kutipan dari Pulp Fiction dalam doa resmi Pentagon sebagai “perpaduan memalukan antara ketidaktahuan dan teatrikalitas.”

Komentator politik Mehdi Hasan juga mengkritik Hegseth, menyatakan bahwa Hegseth “secara harfiah mengarang kutipan Alkitab berdasarkan film, sambil berpura-pura religius.”

Tekanan Politik

Kontroversi ini terjadi di tengah sorotan yang lebih luas terhadap penggunaan simbol dan narasi keagamaan dalam pesan politik pemerintah saat ini. Pekan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump juga menghadapi kritik setelah membagikan gambar hasil kecerdasan buatan yang menggambarkan dirinya dalam pose menyerupai Kristus di platform Truth Social.

Kritik terhadap Hegseth semakin meningkat dalam konteks politik yang sedang berlangsung. Sejumlah anggota Partai Demokrat di DPR AS, termasuk seorang legislator dari Tennessee, telah mengajukan pasal pemakzulan terhadapnya, dengan tuduhan mulai dari kejahatan perang hingga penyalahgunaan kekuasaan terkait operasi militer AS di Iran. Meski proses pemakzulan ini kecil kemungkinan untuk dilanjutkan karena dominasi Partai Republik di Kongres, kontroversi doa ini memberikan amunisi tambahan bagi para pengkritiknya.

Sementara itu, pembela Hegseth relatif minim, meskipun beberapa pengguna media sosial berpendapat bahwa doa tersebut mungkin dimaksudkan sebagai referensi budaya atau adaptasi retoris untuk audiens militer. Hingga saat ini, Departemen Pertahanan AS belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut, meskipun sejumlah media telah meminta klarifikasi.

Peristiwa ini mencerminkan bagaimana momen formal dalam institusi negara dapat dengan cepat berubah menjadi bahan perdebatan publik setelah tersebar di media sosial. Doa “CSAR 25:17” kini menjadi simbol pertemuan yang tidak biasa antara agama, budaya populer, dan politik di Amerika Serikat, serta memunculkan pertanyaan mengenai batas antara kesakralan dan pertunjukan.