Lonjakan Wisatawan di Kajoetangan dan Jodipan Selama Libur Imlek dan Ramadan
MALANGRAYA.CO – Dua destinasi ikonik di Kota Malang, Kampung Heritage Kajoetangan dan Kampung Warna-Warni Jodipan, kembali menjadi primadona wisatawan. Di momen libur panjang Imlek dan Ramadan 1447 H, kedua kampung tematik ini mencatat lonjakan kunjungan hingga 2.500 orang per hari, meningkat drastis dibanding hari biasa.
Hal ini tak hanya menghidupkan denyut ekonomi lokal, tetapi juga menandai tren baru menikmati suasana kota jelang waktu berbuka puasa. Berdasarkan data, sejak Sabtu (14/2/2026), kedua lokasi mengalami peningkatan signifikan.
Salah satunya Kampung Heritage Kajoetangan, yang dikenal sebagai "museum hidup" dengan arsitektur kolonial Belanda yang terawat, menjadi primadona pencinta wisata sejarah.
Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kayutangan Heritage, Mila Kurniawati, mengungkapkan bahwa kunjungan harian kini mencapai angka yang membanggakan.
"Biasanya hanya 600 pengunjung per hari, kini melonjak hingga 2.500 lebih. Ini luar biasa, apalagi menjelang Ramadan biasanya memang ada peningkatan karena banyak wisatawan yang mencari spot ngabuburit yang nyaman dan instagramable," kata Mila, pada Jumat (20/2/2026).
Angka ini masih di bawah rekor libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 yang mampu menembus 4.000-5.500 pengunjung per hari.
Sebelumnya periode 24-31 Desember 2025, kawasan ini bahkan mencatat rekor tertinggi dengan 31.000 wisatawan dalam sepekan.
Adanya lonjakan wisatawan ini berdampak langsung pada 254 pelaku UMKM di sepanjang gang-gang kampung. Penjualan kuliner khas lokal meningkat signifikan.
"Ada pedagang es kelapa muda yang biasanya jual 500 cup sehari, pas libur kemarin bisa habis 2.000 cup. Alhamdulillah, warung-warung kecil di kampung ikut kebagian rezeki," tambah Mila.
Memasuki Ramadan, kawasan ini diproyeksikan menjadi magnet utama ngabuburit. Untuk mengantisipasi kepadatan, Dinas Perhubungan Kota Malang telah menyiapkan pengawasan ketat parkir liar dan mengimbau pengunjung memanfaatkan gedung parkir yang tersedia.
Sementara itu, tak kalah menarik, Kampung Warna-Warni Jodipan juga mencatat lonjakan 50 persen dibanding hari biasa.
Kampung yang bertransformasi dari kawasan kumuh di tepi Sungai Brantas pada 2016 ini, berkat inisiatif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, kini menjadi ikon wisata selfie dengan deretan rumah warna-warni, jembatan kaca, dan tangga pelangi.
Ketua Pokdarwis Kampung Warna-Warni Jodipan, Kodar Agus, membenarkan adanya peningkatan signifikan.
"Kalau hari biasa rata-rata 1.500-an, sekarang bisa sampai 2.250 per hari. Naik sekitar 50 persen. Ini bagus untuk persiapan Ramadan, karena biasanya setelah Imlek langsung sepi, tapi tahun ini malah ramai terus," ungkap Kodar.
Keunikanya, pada awal 2025, kampung ini justru lebih banyak dikunjungi wisatawan mancanegara dibanding domestik.
"Bule-bule suka banget sama warna-warni kampung ini. Mereka biasanya bawa kamera besar dan berlama-lama foto," kenangnya.
Dengan tiket masuk hanya Rp5.000 per orang, pendapatan tak hanya untuk operasional, tetapi juga dialokasikan untuk kesejahteraan warga.
"Uang tiket kami putar lagi untuk warga: bagi sembako, bantu warga sakit, santunan anak yatim, dan kaum dhuafa. Jadi kalau wisatawan ramai, warga juga ikut sejahtera," jelas Kodar.
Kota Malang menargetkan 3,4 juta kunjungan wisatawan pada tahun 2026, meningkat 10 persen dari target tahun sebelumnya yang telah terlampaui.
"Peningkatan aksesibilitas melalui jalan tol dan rute penerbangan domestik turut mendukung pertumbuhan pariwisata di Malang Raya," imbuhnya.
Memasuki Ramadan 2026, berbagai tradisi lokal seperti megengan, prepekan pasar, dan gugur gunung mulai semarak.
"Selain kampung tematik, tempat seperti Alun-alun Merdeka yang baru direvitalisasi dan kafe estetik seperti Sweetheart Cafe juga menjadi pilihan favorit untuk ngabuburit," pungkasnya.
Terkait hal ini, hotel-hotel pun menawarkan paket buka puasa bersama, menunjukkan kesiapan Malang menyambut bulan suci dengan semarak.***




