Panduan Mengubah Informasi Menjadi Kutipan Tidak Langsung di Kelas Bahasa Indonesia
Sumber Foto: Pos-kupang.com
Kutipan Kunci

Panduan Mengubah Informasi Menjadi Kutipan Tidak Langsung di Kelas Bahasa Indonesia

POS-KUPANG.COM - Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 10 SMA, siswa diharapkan dapat mengubah informasi menjadi kutipan tidak langsung serta mencantumkan sumber kutipan sesuai aturan yang berlaku. Latihan ini merupakan bagian dari kurikulum merdeka yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyampaikan informasi secara objektif.

Apa itu Kutipan Tidak Langsung?

Kutipan tidak langsung adalah cara menyampaikan pendapat seorang penulis atau tokoh dengan merangkum inti dari pendapat tersebut menggunakan bahasa sendiri. Untuk dapat membuat kutipan tidak langsung, siswa perlu memahami informasi yang ingin dikutip terlebih dahulu.

Langkah-langkah Membuat Kutipan Tidak Langsung

  • Memahami informasi yang dikuti dengan baik.
  • Menuliskan inti dari informasi tersebut dengan menggunakan bahasa sendiri.
  • Mengubah struktur kalimat sesuai kebutuhan, misalnya dari aktif menjadi pasif atau sebaliknya.

Contoh Latihan

Dalam buku Bahasa Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK kelas X halaman 19-20, terdapat latihan yang meminta siswa untuk mengubah informasi menjadi kutipan tidak langsung. Berikut adalah dua contoh informasi dan cara mengubahnya:

Informasi 1

Semut rangrang dikenal sebagai semut yang unik dan berbeda dari jenis semut lainnya. Sejak sekitar tahun 300 Masehi, di Canton, China, semut ini telah digunakan untuk mengusir hama pada tanaman jeruk. Sarang semut ini diambil dari hutan dan digunakan pada pohon jeruk unggul hingga abad ke-12, serta masih diterapkan di selatan China hingga saat ini.

Sumber: Mengenal Serangga di Sekitar Kita karya S. Djoewari, Alprin, 2020, hal. 58.

Jawaban: Sejak ratusan tahun lalu, semut rangrang dimanfaatkan manusia untuk mengusir hama pada tanaman jeruk. Teknik ini dilakukan sampai abad ke-12 dan masih diterapkan di selatan China hingga sekarang (Djoewari, 2020:58).

Informasi 2

Pengetahuan yang rendah mengenai penggunaan pestisida oleh petani apel dapat mengakibatkan perilaku yang merugikan lingkungan. Ketidaktahuan mereka tentang serangga polinator yang membantu penyerbukan menyebabkan banyak serangga disemprot dengan pestisida. Selain itu, kurangnya pemahaman mengenai manfaat tumbuhan penutup tanah sebagai habitat serangga polinator membuat mereka cenderung menyiangi tumbuhan tersebut.

Sumber: Buku Serangga Polinator karya Budi Purwantiningsih, Universitas Brawijaya Press, 2014, hal. 101-102.

Jawaban: Kebiasaan petani menggunakan pestisida berlebihan dan menyiangi semua tumbuhan penutup tanah dapat membahayakan populasi serangga polinator (Purwantiningsih, 2014:101-102).

Kunci jawaban ini disediakan sebagai panduan bagi siswa dalam proses belajar. Diharapkan siswa dapat mengerjakan latihan secara mandiri sebelum membandingkan hasilnya dengan kunci jawaban yang telah disediakan.