Pemahaman Transformasi Digital: Fokus pada Manusia, Bukan Hanya Teknologi
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
Daftar Disini
MALANG – Perkembangan teknologi mengalami percepatan eksponensial dalam beberapa tahun terakhir. Para ahli seakan tidak pernah kehabisan energi untuk berinovasi.
Dedikasi ini melahirkan banyak teknologi baru untuk semua sektor kehidupan, mulai dari industri yang komplek sampai sektor rumah tangga yang sederhana. Seperti sebuah rumus, ketika teknologi baru ditemukan, maka penemuan itu akan mendorong penemuan baru, sebuah konsep continous improvement.
Penetrasi teknologi yang sangat cepat ini mendorong, bahkan memaksa banyak pihak untuk melakukan adopsi. Beberapa sektor masih menganggap bahwa adopsi teknologi merupakan pilihan. Namun, sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa ini sebuah keharusan.
Dilema ini melahirkan satu teori yang populer saat ini untuk mengantarkan pemangku kebijakan agar tidak salah dalam mengadopsi teknologi. Teori itu dikenal dengan Transformasi Digital.
Banyak orang yang beranggapan bahwa transformasi digital hanyalah soal memindahkan pekerjaan dari sistem manual ke layar digital. Sehingga, pemahaman ini menjadikan banyak pengambil kebijakan melakukan pengadaan besar-besaran untuk perangkat teknologi.
Lebih mirip seperti impulsive buying daripada strategi transformasi. Anggaran yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Apakah teknologi yang dibeli mampu meningkatkan kualitas kinerja atau mempercepat proses bisnis? Belum tentu.
"Technology is never be starting point, it is enabling tools", (teknologi itu bukan pemantik utama, tapi sebagai alat bantu). Begitulah yang disampaikan oleh para pakar transformasi digital.
Adopsi teknologi secara masif tidak memberikan garansi peningkatan kualitas. Justru bisa menjadi senjata yang balik menyerang pemakainya. Berapa banyak teknologi yang berakhir di gudang penyimpanan?
Teknologi hanyalah alat bantu dalam merealisasikan transformasi digital. Sudah tentu, alat bantu tidak lebih penting dari yang dibantu, yaitu brainware (manusia).
Banyak sekali pemangku kebijakan yang hanya fokus pada teknologi tapi melupakan manusia yang akan memanfaatkan teknologi itu. Sehingga, fenomena ini mengakibatkan terjadinya digital shock (keterkejutan digital) karena mereka tidak siap dengan hadirnya teknologi dalam proses bisnis yang mereka jalani.
Seperti yang disampaikan oleh para pakar, "Digital Transformation is multidimensional, but the core dimension is human capital" (Transformasi digital itu mencakup banyak dimensi, tapi dimensi yang paling penting adalah manusia).
Strategi transformasi yang baik harus dimulai dengan membekali dan mempersiapkan manusianya dengan berbagai kemampuan, mulai dari budaya digital, sikap digital, kepemimpinan digital, sampai kemampuan digital.
Faktanya, teknologi hanya mengambil porsi kecil dalam semua dimensi transformasi digital. Jadi, apakah Anda akan tetap hanya fokus pada adopsi teknologi?
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.




