Pembelajaran Kutipan Tidak Langsung dalam Bahasa Indonesia Kelas 10
Sumber Foto: Tribunnews.com
Kutipan Kunci

Pembelajaran Kutipan Tidak Langsung dalam Bahasa Indonesia Kelas 10

Materi pembelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas 10 pada Bab 1 berfokus pada pengungkapan fakta alam secara objektif. Salah satu aspek penting yang akan dipelajari adalah tentang penulisan kutipan tidak langsung serta cara mencantumkan sumber rujukannya.

Kutipan tidak langsung adalah proses pengambilan ide atau konsep dari sumber lain dan menyampaikannya kembali dengan kata-kata serta gaya bahasa penulis sendiri, tanpa mengubah makna atau esensi aslinya. Berbeda dengan kutipan langsung yang menggunakan tanda kutip, kutipan tidak langsung diintegrasikan ke dalam teks dan tidak memerlukan tanda kutip.

Melalui pembelajaran ini, siswa diharapkan dapat memahami dan mampu mengubah informasi menjadi kutipan tidak langsung yang tepat serta menuliskan sumber rujukannya sesuai dengan aturan yang berlaku.

Sebagai bagian dari latihan, dalam soal Bahasa Indonesia kelas 10 pada halaman 19 dan 20 Kurikulum Merdeka, siswa diminta untuk mengubah dua informasi yang disajikan menjadi kutipan tidak langsung. Soal tersebut terdapat dalam Buku Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas X, yang ditulis oleh Fadillah Tri Aulia dan Sefi Indra Gumilar, terbitan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) cetakan pertama tahun 2021.

Contoh Latihan

  • Informasi 1:
    Kutipan tidak langsung: Pada tahun 300 Masehi, orang China menemukan pemanfaatan semut rangrang untuk mengusir hama di perkebunan jeruk. Teknik ini masih digunakan di selatan China hingga saat ini (Djoewari 2020:58).
    Contoh kutipan alternatif: Sejak ratusan tahun lalu, semut rangrang dimanfaatkan oleh manusia, khususnya orang China Selatan, untuk mengusir hama pada tanaman jeruk (Djoewari, 2020: 58).
  • Informasi 2:
    Kutipan tidak langsung: Rendahnya pengetahuan petani apel tentang penggunaan pestisida dapat menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan. Jika tidak berhati-hati, pestisida yang disemprotkan dapat membunuh populasi serangga polinator yang membantu dalam proses penyerbukan (Purwantiningsih 2014: 101-102).
    Contoh kutipan alternatif: Kebiasaan petani menggunakan pestisida berlebihan dan menyiangi semua tumbuhan penutup tanah dapat membahayakan populasi serangga polinator (Purwatiningsih, 2014: 101-102).