Penggunaan Referensi Film dalam Pidato Jokowi: Sebuah Tinjauan Hubungan Internasional
Sumber Foto: The Conversation
Kutipan Publik

Penggunaan Referensi Film dalam Pidato Jokowi: Sebuah Tinjauan Hubungan Internasional

Pada pidato internasionalnya baru-baru ini, Presiden Indonesia Joko "Jokowi" Widodo mengutip film populer Hollywood, Avengers: Infinity War, dan serial televisi Game of Thrones. Tindakan ini memicu beragam reaksi dari publik, dengan beberapa memuji gaya pidato Jokowi, sementara yang lain mengkritiknya karena dianggap tidak relevan.

Meskipun terdapat kritik, penggunaan referensi semacam itu ternyata sejalan dengan praktik yang umum dalam ilmu hubungan internasional. Para akademisi sering menggunakan film untuk menjelaskan berbagai isu, budaya, dan teori dalam bidang ini.

Penggunaan Film dalam Hubungan Internasional

Film, sebagai media yang mudah diakses, sering digunakan dalam studi hubungan internasional. Genre dokumenter, misalnya, digunakan untuk memberikan informasi tentang politik internasional dan diplomasi. The Fog of War, sebuah dokumenter mengenai mantan Menteri Pertahanan AS Robert McNamara, adalah salah satu contoh yang dapat memberikan wawasan tentang keamanan internasional.

Film fiksi juga memiliki peran penting, seperti Hotel Rwanda, yang menggambarkan genosida dan tantangan yang dihadapi dalam konteks hubungan internasional. Selain itu, film seperti Valley of the Wolves: Iraq mencerminkan interpretasi budaya terhadap konflik, menyoroti cara pandang masyarakat terhadap peristiwa internasional.

Film juga bisa digunakan untuk menjelaskan teori-teori hubungan internasional. Misalnya, Lord of the Flies mencerminkan teori realisme, sementara Independence Day menggambarkan pandangan idealis tentang kerjasama internasional.

Kajian Film dalam Hubungan Internasional

Karena objek kajian hubungan internasional tidak dapat diamati secara langsung, film menjadi alat bantu visual yang efektif. Sejak akhir 1990-an, penggunaan film dalam studi hubungan internasional semakin berkembang berkat kemajuan teknologi. Buku-buku seperti International Relations Theory: A Critical Introduction oleh Cynthia Weber memperkenalkan teori-teori tersebut dengan pendekatan yang inovatif melalui film.

Risiko dan Manfaat

Namun, penggunaan film dalam pendidikan juga tidak lepas dari risiko. Film sering kali merupakan produk komersial yang mengedepankan drama dan emosi, yang dapat membuat siswa menganggapnya sebagai hiburan semata. Simplifikasi fakta dalam film bisa mengurangi pemahaman siswa terhadap kompleksitas isu yang diangkat.

Meski demikian, film tetap menjadi alat yang berguna untuk memahami hubungan internasional. Sebagai contoh, adegan medan perang dalam The Lord of the Rings mungkin lebih mudah diingat dibandingkan dengan penjelasan teoritis dalam buku teks.

Dalam konteks ini, pemilihan Jokowi untuk merujuk pada Avengers dan Game of Thrones dapat dilihat sebagai strategi untuk menarik perhatian khalayak internasional serta pemilih di dalam negeri menjelang pemilu presiden 2019. Ia membandingkan keadaan ekonomi dunia dengan Infinity War dan mengibaratkan Thanos dengan negara-negara yang menerapkan kebijakan proteksionis. Selain itu, kutipan terkenal dari Game of Thrones, “musim dingin akan datang”, digunakan untuk menggambarkan ketidakpastian ekonomi global yang disebabkan oleh koordinasi yang lemah di antara negara-negara maju.

Pujian terhadap gaya pidato Jokowi menunjukkan bahwa penggunaan referensi film dapat menyampaikan pesan yang kuat dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Pidato tersebut juga diharapkan dapat menarik perhatian generasi muda terhadap isu-isu ekonomi global, memberikan gambaran yang jelas tentang situasi dunia saat ini yang akan lebih mudah diingat.

Dengan demikian, mungkin kita tidak akan melihat film dengan cara yang sama lagi setelah memahami bagaimana film dapat mencerminkan dan mempengaruhi pemahaman kita tentang hubungan internasional.