Pentingnya Keterhubungan Antara Ekonomi dan Kemanusiaan
Sumber Foto: Langgam.id
Kutipan Publik

Pentingnya Keterhubungan Antara Ekonomi dan Kemanusiaan

Ekonom memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memahami kondisi ekonomi secara jelas dan akurat. Mereka menganalisis data, menginterpretasikan fenomena yang terjadi, dan menawarkan solusi yang realistis. Publik umumnya menghargai ekonom yang dapat menjaga nalar di tengah hiruk-pikuk politik dan kepentingan jangka pendek. Ketika seorang ekonom berbicara, diharapkan ada kejujuran intelektual, analisis yang mendalam, dan perhatian terhadap kepentingan masyarakat luas.

Namun, harapan tersebut tidak selalu terpenuhi. Terdapat ekonom yang meskipun memiliki kemampuan dalam mengolah angka, sering kali kurang peka terhadap realitas sosial. Mereka mampu menjelaskan pertumbuhan ekonomi, inflasi, investasi, dan efisiensi, tetapi gagal menyentuh isu-isu yang dirasakan langsung oleh rakyat, seperti tingginya harga kebutuhan pokok, lapangan kerja yang tidak stabil, dan daya beli yang terus menurun. Individu seperti ini dapat disebut sebagai ekonom aneh.

Istilah 'aneh' di sini bukan merujuk pada perbedaan pendapat, karena variasi pandangan justru dapat memperkaya ilmu ekonomi. Namun, mereka dianggap aneh karena memisahkan angka dari konteks kemanusiaan. Bagi mereka, ekonomi tampak hanya sebagai urusan tabel dan model, tanpa menyadari bahwa setiap kebijakan ekonomi berpengaruh langsung pada kehidupan masyarakat. Kenaikan harga pangan, misalnya, bukan sekadar data inflasi, tetapi berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari keluarga. Demikian pula, suku bunga yang tinggi bukan hanya sekadar instrumen moneter, melainkan dapat menghambat usaha kecil untuk berkembang. Pemotongan anggaran publik pun bukan hanya masalah disiplin fiskal, tetapi dapat mengakibatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang semakin tidak terjangkau oleh masyarakat.

Ekonom aneh sering kali bersembunyi di balik bahasa teknokratis yang rumit. Mereka mendeskripsikan kebijakan tertentu sebagai rasional dan modern, seolah-olah tidak ada alternatif lain. Namun, setiap kebijakan selalu memiliki konsekuensi yang tidak merata. Ada pihak-pihak yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Ketika seorang ekonom mengabaikan pertanyaan mengenai distribusi keuntungan dan kerugian dengan jargon objektivitas, ia tidak menunjukkan sikap netral. Sebaliknya, ia berupaya menyembunyikan keberpihakan yang ada.

Dalam situasi ini, ekonom aneh dapat berperan sebagai penghalang keadilan. Mereka dapat mengubah pengurangan perlindungan sosial menjadi istilah reformasi, menempatkan tekanan hidup kelas menengah sebagai penyesuaian sementara, atau mendefinisikan fasilitas untuk kelompok besar sebagai strategi investasi. Semua ini disampaikan dengan cara yang terdengar ilmiah dan meyakinkan, tetapi sering kali merupakan pembenaran atas kebijakan yang tidak adil.

Masalah ini semakin rumit karena ruang publik sering kali lebih memilih ekonom yang dianggap aman bagi kekuasaan. Kritik yang tajam sering kali dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas, sementara pertanyaan yang jujur dianggap tidak konstruktif. Media juga cenderung memilih ekonom yang mampu menyederhanakan isu kompleks menjadi pernyataan singkat, sehingga publik menjadi banjir dengan analisis yang tampak canggih namun minim empati dan kedalaman moral.

Indonesia memerlukan ekonom yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu mengaitkan efisiensi dengan keadilan, stabilitas dengan martabat, pertumbuhan dengan pemerataan, dan investasi dengan penguatan kapasitas nasional. Negara ini menghadapi berbagai tantangan, seperti pengangguran terdidik, ketimpangan produktivitas, kerentanan pangan, ketergantungan impor, dan tekanan dari dinamika global yang terus berubah. Semua ini tidak dapat dipahami hanya dengan melihat indikator agregat, melainkan membutuhkan kejujuran untuk mengenali manusia di balik angka-angka statistik.

Oleh karena itu, publik perlu lebih kritis dalam menanggapi analisis ekonomi. Jangan mudah terpengaruh oleh gelar, jargon, dan presentasi yang menarik. Pertanyakan hal-hal mendasar: Siapa yang diuntungkan dari kebijakan ini? Siapa yang menanggung biayanya? Apakah penjelasan dari ekonom tersebut membuat masalah menjadi lebih jelas atau justru menambah kebingungan? Apakah ia berbicara demi kepentingan masyarakat atau sekadar merapikan bahasa kekuasaan?

Ekonomi seharusnya bukan hanya angka yang naik dan turun, melainkan juga soal kehidupan masyarakat. Ketika seorang ekonom gagal menghubungkan kebijakan dengan nasib manusia, ia bukan sekadar salah dalam membaca data, tetapi juga kehilangan esensi dari ilmunya. Dalam konteks ini, keberadaan ekonom aneh menjadi berbahaya, karena dapat menjadikan kebijakan yang merugikan rakyat terdengar masuk akal. Jika hal ini dibiarkan, bukan hanya diskursus ekonomi yang akan rusak, tetapi juga akal sehat publik.