Pentingnya Pejabat Menggunakan Transportasi Publik: Dari Simbolis Menuju Solusi Nyata
Sumber Foto: Kompas.com
Kutipan Publik

Pentingnya Pejabat Menggunakan Transportasi Publik: Dari Simbolis Menuju Solusi Nyata

Di tengah kesibukan kota, bayangkan jika seorang wali kota, bupati, dan anggota Dewan Legislatif tiba di halte bus, menunggu angkutan umum yang sering terlambat, sambil merasakan langsung kepadatan di dalam kendaraan yang tidak berpendingin udara, dengan aroma yang khas. Atau, gubernur dan pejabat eselon lainnya, yang biasanya diantar menggunakan mobil dinas mewah, terlihat duduk di bangku bus atau trem, mendengarkan keluhan penumpang mengenai rute yang tidak jelas, pelayanan yang minim, dan tarif yang dianggap mahal.

Apa yang akan terjadi setelah pengalaman itu? Mungkin untuk pertama kalinya, pejabat tersebut akan menyadari bahwa transportasi publik bukan sekadar proyek anggaran, tetapi merupakan isu nyata yang berkaitan dengan kenyamanan dan martabat warga, terutama masyarakat dari kelas menengah ke bawah.

Ide satu hari pejabat menggunakan transportasi publik bukanlah hal baru, tetapi di Indonesia, hal ini masih sebatas wacana yang sulit untuk diwujudkan. Di beberapa negara, langkah ini telah membawa perubahan signifikan. Di Bogota, Kolombia, inisiatif "Hari Tanpa Mobil" tidak hanya mengurangi kemacetan, tetapi juga memaksa pejabat untuk merasakan langsung bagaimana warga bergantung pada sistem Bus Rapid Transit (BRT) yang menjadi tulang punggung mobilitas kota.

Di London, Wali Kota Sadiq Khan kerap terlihat naik kereta bawah tanah (Tube) untuk memantau layanan dan mendengar keluhan penumpang. Hasilnya, London memiliki sistem transportasi publik yang terintegrasi dan menjadi kebanggaan warganya.

Sementara itu, di Indonesia, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Anies Baswedan, pernah mencoba naik TransJakarta untuk memantau layanan secara langsung. Langkah ini mendapatkan apresiasi meskipun belum menjadi kebijakan rutin.

Di banyak daerah lainnya, transportasi publik masih sering dipandang sebelah mata. Angkutan umum yang ada seringkali tidak nyaman, tidak aman, tidak terintegrasi, dan jauh dari kata layak. Padahal, transportasi publik yang baik adalah indikator kemajuan suatu daerah, bahkan negara. Ini bukan hanya alat mobilitas, tetapi juga cerminan bagaimana pemerintah memandang kesejahteraan warganya.

Lebih penting lagi, hal ini berhubungan dengan sikap keberpihakan pemerintah terhadap penderitaan rakyat. Mengapa ide satu hari pejabat naik transportasi publik sangat penting? Pertama, ini memaksa pejabat untuk keluar dari "gelembung kenyamanan" dan merasakan langsung masalah yang dihadapi masyarakat. Kedua, langkah ini dapat menjadi momentum untuk mendorong kebijakan yang lebih manusiawi dan berbasis data. Ketiga, ini membantu membangun kepercayaan masyarakat bahwa pemerintah serius dalam memperbaiki transportasi publik.

Tantangan yang dihadapi tidaklah kecil. Resistensi dari pejabat yang terbiasa menggunakan kendaraan dinas mungkin menjadi penghalang utama. Selain itu, ketersediaan transportasi publik yang belum merata di berbagai daerah juga menjadi kendala.

Namun, di sinilah letak urgensi kebijakan ini. Dengan merasakan langsung buruknya layanan transportasi publik, pejabat akan terdorong untuk memperbaikinya. Agar kebijakan ini tidak sekadar simbolis, perlu ada mekanisme yang jelas, seperti menetapkan jadwal rutin (satu hari dalam seminggu), melibatkan media dan masyarakat untuk memantau pelaksanaan, serta membuat laporan evaluasi yang transparan.

Kolaborasi dengan akademisi dan praktisi transportasi juga penting untuk merancang sistem yang lebih baik. Pada akhirnya, transportasi publik yang baik adalah hak warga, bukan sekadar fasilitas tambahan. Dengan mewajibkan pejabat untuk menggunakan transportasi publik, kita tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun empati dan komitmen untuk menciptakan kota yang lebih manusiawi.

Seperti yang diungkapkan oleh Enrique Penalosa, mantan Wali Kota Bogota, "Negara maju bukanlah tempat di mana orang miskin memiliki mobil. Negara maju adalah tempat di mana orang kaya menggunakan transportasi publik." Kutipan ini menekankan bahwa transportasi publik yang baik adalah indikator kemajuan dan kesetaraan sosial.

Sebagai penutup, seperti ungkapan bijak lama, perjalanan ribuan kilometer dimulai dengan satu langkah. Langkah pertama itu bisa dimulai dari halte bus terdekat.