Perseteruan Antara Menteri HAM dan Guru Besar UGM Memanas
Perseteruan antara Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai dan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar, semakin intens setelah Pigai memberikan sindiran tajam terhadap pernyataan lawannya. Ketegangan ini mencerminkan dinamika dalam diskursus hak asasi manusia di Indonesia.
Kritik dari Natalius Pigai
Dalam sebuah unggahan di media sosial X, Natalius Pigai merespons pernyataan Zainal Arifin yang mengutip dirinya dan Imam Al Ghazali dalam konteks diskusi mengenai karakter manusia. Pigai, yang berasal dari Enarotali, Kabupaten Paniai, menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh tantangan dan bagaimana pengalaman tersebut membentuk karakter dan integritasnya.
"Saya merasakan batas tipis antara hidup dan mati, baik dan jahat. Bagaimana orang menjerit, meratap, dan merintih," ungkap Pigai. Ia menjelaskan bahwa pengalaman sebagai korban pelanggaran HAM membawanya untuk memperjuangkan hak-hak orang lain, dan kini ia menjabat sebagai orang nomor satu di bidang HAM di Indonesia.
Pernyataan Sindiran kepada Zainal Arifin Mochtar
Lebih lanjut, Pigai menyampaikan sindiran kepada Zainal Arifin, yang ia nilai tidak sesuai dengan pemahaman mendalam yang semestinya dimiliki seorang guru besar. Pigai menyebut Zainal sebagai "Guru yang dibesar-besarkan," menegaskan bahwa meskipun seorang akademisi diharapkan memiliki kedalaman pemikiran, ia menilai Zainal tidak memenuhi harapan tersebut.
Perseteruan ini menunjukkan ketegangan yang ada dalam diskursus hak asasi manusia dan akademisi di Indonesia, khususnya terkait pengalaman pribadi dan otoritas dalam memperjuangkan isu-isu HAM.




