Potensi Dampak Program B50 Terhadap Devisa Negara
Kutipan News - Program biodiesel 50 persen (B50) berpotensi mengurangi penerimaan devisa negara sebesar US$ 2,7 miliar per tahun akibat penurunan volume ekspor minyak sawit mentah (CPO). Hal ini berdasarkan asumsi harga rata-rata CPO CIF Rotterdam sebesar US$ 1.356 per metrik ton pada awal 2026.
Awal Kejadian
Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) mengungkapkan bahwa proyeksi ini didasarkan pada data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). GAPKI memperkirakan ekspor kelapa sawit nasional akan terpangkas sekitar 2 juta ton pada paruh kedua 2026, mendekati 4 juta ton dalam setahun.
Perkembangan
ISEAI mencatat bahwa penerapan program B50 ini muncul di tengah stagnasi produksi bahan baku, yang dapat memicu krisis dalam tata kelola komoditas kelapa sawit. Analis senior ISEAI, Rony P. Sasmita, menyatakan bahwa pergeseran alokasi CPO untuk biodiesel akan langsung berdampak pada penurunan kapasitas ekspor CPO Indonesia ke pasar internasional. Selama lima tahun terakhir, produksi CPO Indonesia stagnan di kisaran 48-51 juta ton per tahun, disebabkan oleh lambatnya program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan penurunan produktivitas tanaman.
Kondisi Terakhir
Pada 2025, meskipun produksi CPO tumbuh 7,26 persen mencapai 51,66 juta ton, cadangan stok akhir domestik menyusut tajam sebesar 19,79 persen menjadi hanya 2,068 juta ton akibat tingginya serapan domestik. Dari total konsumsi domestik sebanyak 2,141 juta ton pada April 2026, sebagian besar digunakan untuk biodiesel dengan kebutuhan mencapai 1,137 juta ton, diikuti oleh sektor pangan dan oleokimia.




