Roby Tremonti Tanggapi Memoar Aurelie Moeremans, Unggah Kutipan Hukum dan Batasi Komentar di Instagram
Sumber Foto: Radar Kediri
Kutipan Publik

Roby Tremonti Tanggapi Memoar Aurelie Moeremans, Unggah Kutipan Hukum dan Batasi Komentar di Instagram

Rilis buku memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans telah menarik perhatian publik. Dalam buku tersebut, Aurelie mengungkapkan pengalaman pahitnya terkait perawatan anak yang dialaminya sejak remaja, yang juga menyentuh hubungan manipulatif yang ia jalani.

Salah satu sosok yang diperbincangkan dalam konteks ini adalah pria dewasa yang disebut dengan nama samaran 'Bobby'. Meskipun tidak disebutkan secara langsung, nama Roby Tremonti muncul dalam diskusi warganet, mengingat hubungan masa lalu mereka yang pernah terungkap ke publik.

Menanggapi sorotan yang meningkat, Roby Tremonti unggah kutipan bernuansa hukum di akun Instagramnya. Kutipan tersebut membahas tentang tuduhan, pencemaran nama baik, dan konsekuensi hukum dari pernyataan yang disampaikan di ruang publik. Namun, unggahan tersebut tidak disertai dengan penjelasan lebih lanjut atau klarifikasi mengenai isi buku Aurelie.

Roby juga mengambil langkah untuk membatasi kolom komentar di akun Instagramnya. Beberapa unggahan hanya dapat dikomentari oleh akun tertentu, sementara yang lainnya menonaktifkan kolom komentar sepenuhnya. Tindakan ini dinilai sebagai upaya untuk menghindari arus opini negatif dari publik, meskipun ada anggapan bahwa langkah tersebut merupakan bentuk perlindungan diri dari potensi serangan digital.

Aurelie dalam bukunya mengisahkan pengalaman hubungan manipulatif yang dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Ia menggambarkan proses grooming yang berlanjut secara perlahan, dimulai dari perhatian berlebihan hingga menciptakan ketergantungan psikologis. Salah satu kutipan yang mencolok dari bukunya menggambarkan pengalaman traumatis yang dialaminya, menunjukkan dampak psikologis yang mendalam dari hubungan tersebut.

Meskipun menggunakan nama samaran, detail dalam buku tersebut membuat banyak orang awam dapat mengaitkan dengan figur tertentu. Roby Tremonti sebelumnya pernah mengakui adanya hubungan dan pernikahan secara agama dengan Aurelie saat ia masih berusia sangat muda. Ia menyatakan bahwa hubungan tersebut adalah sah dan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, mengklaim bahwa pernikahan terjadi ketika Aurelie sudah berusia 18 tahun.

Namun, dalam memoarnya, Aurelie menekankan bahwa hubungan tersebut dibangun dalam situasi tekanan psikologis dan ketimpangan kekuasaan. Ia mengaku mengalami kesulitan untuk menolak, kehilangan kendali atas hidupnya, serta merasakan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental dan pembentukan identitas diri.

Memoar Aurelie memicu diskusi lebih luas mengenai praktik child grooming, terutama di industri hiburan. Banyak pihak menilai bahwa kisah ini membuka mata publik tentang bagaimana hubungan tidak sehat sering disamarkan sebagai bentuk cinta, perhatian, atau perlindungan.