Saham India Jadi Pilihan Investor di Tengah Volatilitas Pasar Global
Sumber Foto: Vietnam.vn
Ekonomi

Saham India Jadi Pilihan Investor di Tengah Volatilitas Pasar Global

Kutipan News - Di tengah hiruk pikuk AI yang mengguncang indeks saham dari Asia hingga AS, indeks NSE Nifty 50 India secara bertahap menjadi semacam "tempat berlindung yang aman" bagi investor global. Pada paruh pertama tahun ini, indeks tersebut mencatat fluktuasi 1% atau lebih hanya pada sekitar sepertiga hari perdagangan. Volatilitas ini lebih rendah daripada indeks MSCI Emerging Markets dan hanya sedikit lebih tinggi daripada S&P 500 AS.

Kurangnya saham teknologi AI telah menjadi hambatan utama bagi India sepanjang tahun ini, karena modal telah mengalir ke pasar yang menawarkan pengembalian yang lebih tinggi berkat gelombang ini, seperti Korea Selatan dan Taiwan (China).

Namun, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang keberlanjutan tren investasi tersebut, minat terhadap India secara bertahap kembali. Pada Juni 2026, indeks Nifty 50 mengungguli indeks MSCI Emerging Markets, sementara arus keluar dana asing berada pada level terendah dalam empat bulan.

Maxence Visseau, direktur investasi di Arkevium Capital di Dubai, mencatat bahwa ketenangan baru-baru ini di pasar India berasal dari satu faktor: posisi negara tersebut di luar gelombang investasi AI. Namun, Visseau sekarang berpendapat bahwa justru fakta inilah yang memungkinkan India untuk bertindak sebagai lindung nilai terhadap risiko AI di antara pasar negara berkembang.

Meskipun saham-saham India tetap menjadi salah satu pasar dengan kinerja terburuk di dunia sejak awal tahun, situasinya mulai berbalik, karena Rupee telah stabil setelah mencapai titik terendah sepanjang masa.

Selain itu, harga minyak mulai mendingin karena berkurangnya ketegangan di Timur Tengah. Sebelumnya, kenaikan harga minyak telah menyebabkan saham maskapai penerbangan dan kilang minyak India anjlok. Menurut laporan dari pemerintah India pada akhir Juni 2026, perkembangan ini telah meredakan kekhawatiran tentang inflasi dan membuka prospek yang lebih cerah untuk pertumbuhan ekonomi di negara Asia Selatan ini.

Ben Powell, Direktur Strategi Investasi untuk Timur Tengah dan Asia Pasifik di BlackRock Investment Institute, menjelaskan bahwa pasar India pada awalnya terhambat oleh harga energi yang tinggi, valuasi saham yang mahal, dan akses terbatas terhadap gelombang AI.

Namun, seiring meredanya tekanan tersebut, investor mungkin akan mencari peluang di luar pasar yang sangat bergantung pada AI. Powell menyimpulkan bahwa hal ini dapat membawa India kembali menjadi sorotan sebagai peluang unggulan di dalam blok pasar negara berkembang.