Vokasi UI Gelar Konferensi Internasional untuk Transformasi Fisioterapi Asia
Sumber Foto: ANTARA News Megapolitan
Teknologi

Vokasi UI Gelar Konferensi Internasional untuk Transformasi Fisioterapi Asia

Depok (ANTARA) -

orong transformasi fisioterapi Asia melalui teknologi dan kolaborasi global dengan menggelar konferensi internasional, The 3rd Asian Physiotherapy Network Conference (APNC) 2026.

Forum ini menjadi titik temu bagi para praktisi, peneliti, dan akademisi fisioterapi se-Asia untuk merancang masa depan profesi yang berbasis bukti (evidence-based) dan teknologi.

Wakil Direktur Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan Vokasi UI, Badrul Munir di Depok, Rabu, menegaskan bahwa konferensi ini merupakan bagian dari strategi internasionalisasi Vokasi UI.

“APNC menjadi wadah penting untuk memperkuat budaya riset, memperluas jejaring akademik global. Vokasi UI berupaya mendorong mahasiswa dan dosen untuk aktif dalam jejaring akademik internasional agar mampu menghasilkan karya ilmiah yang berdampak dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.

Sorotan utama konferensi datang dari Prof. Feryal Subasi, Head of Physiotherapy & Rehabilitation, Faculty of Health Sciences, Yeditepe University, Turki, yang menjelaskan bahwa Multiple Sclerosis (MS) merupakan penyakit autoimun kronis sistem saraf pusat yang menyerang sekitar 2,8 juta orang secara global.

MS berdampak multidimensional motorik, sensorik, kognitif, hingga psikologis sehingga membutuhkan pendekatan rehabilitasi yang komprehensif dan terintegrasi.

Salah satu isu utama dalam MS adalah fatigue, yang dialami lebih dari 80 persen pasien. Ia menjelaskan bahwa fatigue bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan berkaitan dengan gangguan sirkuit saraf pusat (cortico-striato-thalamo-cortical loop) yang memengaruhi fungsi kognitif seperti

perencanaan dan pengambilan keputusan.

Prof. Subasi mengatakan sesi latihan minimal 40 menit merupakan ambang penting (therapeutic active dose) untuk mendorong neuroplastisitas dan perbaikan motorik.

"Durasi dan intensitas latihan berhubungan langsung dengan peningkatan skor Berg Balance Scale (BBS) hingga rata-rata empat poin, yang secara klinis bermakna dalam mengurangi risiko jatuh,” ujarnya.

Project Director 3rd APNC, Riza Pahlawi, menegaskan bahwa konferensi ini tidak hanya berfokus pada penguatan jejaring akademik, tetapi juga memiliki relevansi terhadap agenda pembangunan dan penguatan fisioterapi di kancah global.

“Kolaborasi riset fisioterapi lintas negara seperti yang terbangun dalam APNC secara langsung berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 tentang Good Health and Well-Being melalui peningkatan kualitas layanan rehabilitasi berbasis bukti, serta Tujuan 4 tentang Quality Education melalui penguatan pendidikan tinggi dan riset internasional," jelasnya.

"Selain itu, jejaring kolaboratif Asia ini juga sejalan dengan Tujuan 17, yaitu Partnerships for the Goals, karena membangun kemitraan strategis untuk kemajuan ilmu dan kesehatan masyarakat,” ujarnya menambahkan.

Ia menyebut pengembangan teknologi rehabilitasi, integrasi riset, serta peningkatan kapasitas akademik merupakan investasi jangka panjang dalam sistem kesehatan yang inklusif dan

berkelanjutan.

Melalui penyelenggaraan 3rd APNC 2026, Vokasi UI terus berupaya untuk menjadi bagian aktif dalam transformasi fisioterapi Asia yang kolaboratif, adaptif terhadap perkembangan ilmu dan teknologi, serta konsisten mengedepankan praktik berbasis bukti demi peningkatan kualitas hidup pasien di tingkat regional maupun global.