Wisata Mangrove Tanjung Batu Berau Kembali Dibuka dengan Perbaikan Rp1,7 Miliar
Sumber Foto: Kaltim Kece
Lifestyle

Wisata Mangrove Tanjung Batu Berau Kembali Dibuka dengan Perbaikan Rp1,7 Miliar

kaltimkece.id Pulau Derawan dan Pulau Maratua di Berau merupakan wisata andalan di Kalimantan Timur. Biasanya, untuk menunggu satu jam penyeberangan ke pulau-pulau tersebut, wisatawan memanfaatkan dengan duduk, mengobrol atau sekadar menatap laut dari dermaga. Lebaran tahun ini, kebiasaan itu bakal berubah dengan menyusuri wisata mangrove yang dulunya rusak dan sepi.

Di ujung kampung pesisir itu, kawasan mangrove yang sempat rusak parah kini bersolek. Sebuah selasar kayu memanjang hingga ke bibir laut, menghadirkan pemandangan lepas ke tiga pulau sekaligus yakni Pulau Panjang, Pulau Rabu-Rabu, dan Pulau Derawan.

Jika beberapa waktu lalu lintasan papan hanya sampai di tengah, kini pengunjung bisa berjalan sampai ke ujungnya, ke titik di mana angin asin berembus lebih kencang dan suara ombak terdengar lebih tenteram.

"Insyaallah, tahun ini sudah siap dikunjungi kembali," kata Syamsiah Nawir, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, kepada kaltimkece.id, Rabu, 18 Februari 2026.

Kabid Pengembangan Destinasi Wisata Disbudpar Berau, Syamsiah Nawir. FOTO: MARTA-KALTIMKECE.ID

Ia menyebut perbaikan dilakukan sejak akhir 2023. Nilai anggarannya sekitar Rp1,7 miliar. Kerusakan sebelumnya tak main-main. Sejumlah kayu tampak lapuk, daun busuk menumpuk, dan kualitas material yang tak lagi memadai membuat kawasan itu terpaksa ditutup untuk umum. Kerusakan fasilitas bukan tanpa alasan.

"Kalau sarana jarang dikunjungi dan tidak dipelihara, cepat rusak," ujarnya.

Kayu yang digunakan diklaim berkualitas lebih baik. Harapannya sederhana, umur infrastruktur lebih panjang dan biaya perawatan tak membengkak. Namun yang berubah bukan hanya kualitas kayu. Di pinggiran selasar, ruang-ruang kecil disiapkan untuk pelaku UMKM. Dulu tak ada wadah bagi produk lokal dipajang. Kini pengunjung bisa menemukan aneka olahan dan kerajinan lokal tanpa harus berdesakan di dermaga.

Toilet telah tersedia. Spot swafoto dibangun hingga ke ujung lintasan. Gazebo-gazebo untuk beristirahat sedang disiapkan.

Mangrove Tanjung Batu tak hanya berhenti sebagai lokasi berfoto. Pengelola menjanjikan wisata edukasi. Ada pemandu yang menjelaskan fungsi ekologis mangrove, tata kelola kawasan, hingga pentingnya menjaga pesisir.

Kelompok sadar wisata (pokdarwis) setempat disebut telah menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) bagi pengunjung. Mulai alur masuk hingga tata tertib selama berada di kawasan ada prosedurnya.

Ketua Pokdarwis Lahatku Janti Tanjung Batu, Narton Saragi, menyebut pembukaan kembali ini sebagai angin segar. Libur Lebaran menjadi momentum pertama pembukaan formal setelah perbaikan panjang. Meski sebelumnya kawasan tetap menerima kunjungan " by request", kali ini gerbang dibuka lebih lebar.

"Kami sudah mempersiapkan untuk menyambut wisatawan, termasuk memantapkan pelaku UMKM," ujar Narton.

Ia memastikan penerapan SOP menjadi prioritas, terutama demi kenyamanan dan keamanan pengunjung. Harga tiket masuk untuk wisatawan lokal dipatok sekitar Rp5.000, sementara wisatawan mancanegara Rp10.000 per orang, sekadar biaya operasional bagi pengelola. Biaya tersebut berdasarkan peraturan kampung (perkam).

"Tapi ini masih berdasarkan perkam lama, masih harus dibicarakan lagi pengelolaan pada musim libur lebaran ini, apakah masih pakai perkam lama atau ada perkam baru terkait pungutan," bebernya.

Biaya tersebut terbilang murah, nyaris simbolik, untuk pengalaman berjalan di atas akar-akar napas mangrove yang menembus lumpur dan menyaring abrasi.