AI Aiman & Aisha: Inovasi Media Islam dalam Transformasi Digital
Kutipan News - Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai platform kecerdasan buatan (AI) keislaman bernama Aiman & Aisha yang dirilis oleh Republika merupakan bentuk adaptasi progresif industri media nasional dalam menghadapi gelombang transformasi digital.
"Lebih dari sekadar inovasi, Aiman & Aisha adalah representasi nyata bagaimana kecerdasan buatan dapat dirancang khusus untuk mendukung ekosistem konten keislaman yang terkurasi," kata Nezar di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, kehadiran Aiman & Aisha ini harus dimaknai sebagai upaya menjaga kedaulatan digital Indonesia, di mana kecerdasan buatan dibangun di atas referensi yang kuat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ia menegaskan, pengembangan AI oleh institusi media nasional seperti ini sangat penting. Tujuannya agar algoritma yang berinteraksi dengan masyarakat tetap berpijak pada integritas data dan keberagaman konteks budaya Indonesia. Dengan demikian, teknologi tidak menjadi entitas yang asing dan tercerabut dari realitas sosial penggunanya.
Nezar mengingatkan bahwa meskipun AI menawarkan efisiensi luar biasa, peran manusia dalam melakukan kurasi dan menjaga empati tetap tidak tergantikan. Dia berharap Aiman & Aisha dapat menjadi perantara pembelajaran digital yang menggabungkan teknologi mutakhir dengan kearifan Islam.
“Kita ingin AI seperti Aiman & Aisha menjadi mitra bagi pengguna internet, bukan justru menggantikan kedalaman berpikir yang menjadi inti dari tugas seorang intelektual,” ujar Nezar.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia Kamaruddin Amin menegaskan peluncuran platform Aiman & Aisha ni bukan sekadar menghadirkan produk teknologi baru, melainkan sebuah ikhtiar peradaban.
Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Republika atas inisiatif pengembangan AI untuk meningkatkan literasi keislaman yang moderat dan menyejukkan.
Senada, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Izzul Muslimin juga menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap inovasi yang digagas Republika tersebut. Ia menilai kehadiran AI berbasis nilai-nilai Islam akan memberi kontribusi positif bagi dakwah dan literasi keagamaan di tengah masyarakat.
“Kami sangat berbahagia menyaksikan agenda yang luar biasa ini. Insya Allah akan memberi nilai positif bagi kegiatan dakwah kita dan sekaligus memberi ruang kepada masyarakat yang ingin mendapatkan informasi terbaik dan bermanfaat,” ujar Izzul dalam sambutannya.
Direktur Republika Rangga Danu menjelaskan bahwa kehadiran Aiman & Aisha dilandasi oleh kebutuhan riil umat terhadap jawaban keagamaan yang cepat, terpercaya, dan sesuai syariah. Di tengah kehidupan sehari-hari yang serba cepat, pertanyaan tentang ibadah, muamalah, hingga etika sosial kerap muncul secara mendesak, sementara akses terhadap rujukan komprehensif tidak selalu mudah.
Ia menambahkan, dalam rangka menyambut bulan suci, Republika memberikan akses gratis kepada masyarakat untuk memanfaatkan Aiman & Aisha selama Ramadhan sebagai teman ibadah dan mudik bagi semua orang. Siapapun dapat bertanya kepada Aiman & Aisha tanpa dipungut biaya.
Kebijakan ini diharapkan dapat memperluas manfaat platform sebagai pendamping spiritual digital, khususnya pada momentum Ramadhan yang sarat dengan peningkatan kebutuhan literasi ibadah, konsultasi syariah, hingga panduan etika sosial selama perjalanan mudik.
Untuk selanjutnya, masyarakat dapat menikmati akses bertanya tanpa batas kepada Aiman & Aisha sekaligus mendukung gerakan Dakwah Sosial Republika mulai dari Rp8.000 saja.
Kekhasan platform ini, lanjutnya, terletak pada intentional constraint atau pembatasan yang disengaja sebagai bentuk tanggung jawab epistemik. Aiman & Aisha tidak berambisi menjawab semua hal, melainkan fokus pada hal-hal yang dapat dipertanggungjawabkan secara Qurani dan syari.
“Pendekatan ini kami yakini dapat meningkatkan kepercayaan, mengurangi kebisingan interpretatif, serta mengembalikan Alquran sebagai pusat orientasi. Dengan memadukan fondasi wahyu dan kecanggihan teknologi, kami memposisikan Aiman & Aisha bukan sekadar chatbot, melainkan human-centered digital muallim, pendamping pembelajaran Islam yang relevan dengan dinamika zaman,” ujarnya.




