Danantara: Kunci Memperkuat Kedaulatan Ekonomi dan BUMN Nasional
Sumber Foto: ANTARA News Sulteng
Ekonomi

Danantara: Kunci Memperkuat Kedaulatan Ekonomi dan BUMN Nasional

Palu (ANTARA) - Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria menyampaikan bahwa keberadaan Danantara harus dimaknai sebagai langkah serius negara untuk memperkuat kembali kedaulatan ekonomi nasional.

"Jadi Danantara bukan sekadar lembaga pengelola investasi, tetapi bisa dan seharusnya menjadi instrumen strategis negara dalam membina, memperkuat, dan bahkan mengembalikan kepemilikan saham asing di sejumlah BUMN agar kembali sepenuhnya berada di tangan bangsa sendiri," kata Sofyano saat dihubungi di Palu, Jumat.

Ia mengemukakan BUMN negeri seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), dan PT Elnusa Tbk merupakan perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor strategis yakni panas bumi, gas bumi, hingga jasa penunjang migas.

"Tentunya ini bukan perusahaan yang bergerak di sektor biasa sebab menyangkut hajat hidup orang banyak dan ketahanan energi nasional," ucapnya.

Ia menuturkan saat ini masyarakat sudah lama paham dan mengetahui bahwa sebagian saham perusahaan-perusahaan tersebut sudah dilepas ke publik, termasuk investor asing.

Menurut dia, secara hukum hal itu memang sah karena sudah melalui mekanisme pasar modal.

"Tetapi secara nasionalisme ekonomi, kita patut bertanya apakah sektor strategis ini layak dikuasai pihak luar sehingga disinilah peran Danantara menjadi penting," sebutnya.

Sofyano menyebutkan bahwa Danantara sebagai entitas pengelola investasi negara, memiliki potensi dan kewenangan untuk melakukan konsolidasi aset-aset strategis nasional.

Kata dia, Danantara bisa menjadi pembeli strategis atas saham-saham BUMN yang saat ini dimiliki pihak asing atau investor luar.

"Jadi ada mekanisme pasar yang sah untuk menjadi pembeli strategis seperti buyback, akuisisi bertahap, atau pengalihan kepemilikan melalui skema investasi yang terukur," kata dia.

Sofyano menjelaskan secara kemampuan finansial, Danantara didesain untuk mengelola dana besar yang bersumber dari aset negara dan pengelolaan investasi jangka panjang.

"Ke depan apabila dikelola secara profesional, transparan, dan bebas dari kepentingan politik jangka pendek, Danantara memiliki daya ungkit (leverage) yang cukup untuk masuk sebagai investor utama di BUMN-BUMN strategis," ucap Sofyano.

Direktur Puskepi itu mengutarakan pertama Danantara harus memiliki peta jalan yang jelas yakni BUMN mana saja yang masuk kategori sangat strategis dan perlu penguatan kepemilikan nasional.

Tidak semua BUMN harus 100 persen tertutup dari investor publik. Tetapi untuk sektor energi dan sumber daya alam, penguatan kepemilikan negara adalah bentuk perlindungan jangka panjang.

Untuk strategi kedua adalah kemampuan negosiasi dan manajemen risiko. Mengembalikan saham asing bukan berarti menutup diri dari kerja sama internasional. Yang dikembalikan adalah kontrol mayoritas dan kendali strategis. Investor asing tetap bisa menjadi mitra, tetapi bukan penentu arah kebijakan.

"Poin ketiga adalah tata kelola yang bersih menjadi kunci utama sebab jika Danantara ingin dipercaya rakyat sebagai simbol nasionalisme ekonomi, maka pengelolaannya harus transparan dan akuntabel," jelasnya.

Jangan sampai niat baik memperkuat BUMN justru berubah menjadi ladang kepentingan segelintir elit. Bagi masyarakat golongan menengah ke bawah, mungkin istilah saham dan akuisisi terdengar jauh. Tetapi dampaknya sangat nyata. Jika negara memegang kendali penuh atas perusahaan energi, maka kebijakan harga, distribusi, dan investasi bisa lebih berpihak kepada kepentingan rakyat. Negara tidak akan mudah ditekan oleh kepentingan luar dalam menentukan arah kebijakan energi.

Sofyano mengemukakan Nasionalisme BUMN bukan berarti anti asing karena nasionalisme yang sehat adalah memastikan bahwa keputusan penting terkait sumber daya alam tetap berada di tangan bangsa sendiri.

"Kita tetap membuka kerja sama, tetapi posisi tawar kita harus lebih kuat. Danantara harus menjadi simbol kebangkitan pengelolaan aset negara secara modern namun berjiwa kebangsaan, jangan hanya menjadi lembaga pengelola dana yang berorientasi keuntungan semata. Keuntungan memang penting, tetapi kedaulatan jauh lebih penting," sebut Direktur Puskepi.

Danantara, kata dia, harus mampu secara bertahap meningkatkan kepemilikan nasional di BUMN energi yang strategis dan juga BUMN lainnya.

"Inilah ujian sebenarnya bagi Danantara, apakah hanya menjadi manajer investasi biasa, atau benar-benar menjadi alat negara untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi nasional. Rakyat menunggu bukti kerja nyata yang tidak hanya soal keuntungan semata tetapi yang juga mampu membanggakan nasionalismenya," pungkasnya.