Digitalisasi, AI, dan Alat Berat Listrik Dorong Efisiensi serta Kinerja ESG di Pertambangan
Sektor pertambangan hendaknya senantiasa beradaptasi di tengah kompleksitas tantangan bisnis.
Oleh Emanuel Edi Saputra
08 Agt 2025 16:55 WIB · Ekonomi & Bisnis
Sektor pertambangan hendaknya senantiasa beradaptasi di tengah kompleksitas tantangan bisnis. Dalam konteks itulah, transformasi digital dan teknologi kian penting, terlebih dapat memperkuat performa perusahaan pada aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG.
Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (Aspindo) mengungkapkan, sektor pertambangan saat ini menghadapi berbagai tekanan. Tekanan itu mulai dari fluktuasi harga komoditas, ketatnya persaingan di pasar global, dan meningkatnya biaya operasional yang menuntut industri harus beradaptasi dengan cepat dan cerdas.
”Bagaimana menciptakan efisiensi biaya, mengoptimalkan produktivitas, meningkatkan keselamatan kerja, hingga memperkuat komitmen keberlanjutan (sustainability),” ujar Direktur Eksekutif Aspindo Bambang Tjahjono, dalam Mining Talk bertajuk Form Cost Pressure to Smart Operating: Transforming Mining Efficiency and Productivity yang dilaksanakan secara daring, Rabu (6/8/2025).
Dalam konteks itulah, sebetulnya transformasi digital dan teknologi semakin penting. Transformasi digital dan teknologi yang dimaksud, antara lain data yang real time, otomasi, pemeliharaan prediktif (predictive maintenance), dan integrasi sistem manajemen lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance /ESG).
”Terkait itu ada contoh konkret dari upaya yang kini mulai menjadi norma baru dalam operasional pertambangan modern,” tutur Bambang.
Sebagai asosiasi yang menaungi penyedia jasa pertambangan Indonesia, pihaknya terus mendorong kolaborasi lintas sektor guna mempercepat transformasi. Pihaknya percaya, efisiensi dan produktivitas tidak cukup hanya dikejar dari sisi biaya, tetapi juga dari operasi yang cerdas (smart operation) berbasis data, transparan, dan terintegrasi secara teknologi.
Saat ini, beberapa kontraktor besar sudah mengimplementasikan pemanfaatkan digitalisasi dalam operasi pertambangan. Hal itu dilakukan karena operasi pertambangan melibatkan ratusan alat berat dan area yang luas, pengaturan pompanisasi air, dan pengaturan ribuan operator lantaran lokasi yang menyebar.
”Hal-hal tersebut membutuhkan pemanfaatan teknologi dan digitalisasi. Dengan begitu, dapat meningkatkan daya saing dan ketahanan industri di tengah tantangan global,” ujarnya.
Industrial Process Sustainability Lead Nickel Industries PT Hengjaya Mineralindo Chrisma Virginia menuturkan, komitmen ESG diwujudkan dengan beralih dari rotary kiln electric furnace (RKEF) menjadi high pressure acid leaching (HPAL) yang diyakini lebih ramah lingkungan dari sisi gas emisi gas rumah kaca. Dengan mengadopsi HPAL, konsumsi energi dan emisi karbon berkurang hingga 25 persen, dan 20 persen untuk produk pirometalurgi (pyrometallurgi).
Digitalisasi juga penting dilakukan untuk memperkuat performa ESG. Dari laporan World Economic Forum (2025), misalnya, inovasi digital dapat meningkatkan performa ESG secara signifikan. Hal itu dilakukan terutama terkait automasi, remote sensing (penginderaan jauh), dan akal imitasi (AI) dapat membantu operasi pertambangan secara lebih aman.
Penerapan AI itu, misalnya, untuk memprediksi kerusakan alat. Kemudian juga membantu pengelolaan lingkungan dengan monitoring berbasis IoT (internet of things) yang sudah mulai berjalan di Indonesia untuk pemantauan emisi maupun air limbah. Namun, dalam penerapan AI dan digitalisasi, memerlukan data akurat dan mudah untuk diakses.
”Penerapannya diperlukan kesiapan organisasi, termasuk manajemen perubahan (change management). Digitalisasi dapat berjalan efektif apabila terdapat manajemen perubahan yang jelas, termasuk adaptasi teknologi,” ujar Chrisma.
PT Hengjaya Mineralindo sendiri menerapkan IoT dalam pemantauan air limbah. Dengan demikian, secara real time pihaknya bisa memeriksa kualitas air, apakah sudah memenuhi baku mutu atau belum.
Kendaraan listrik
Digitalisasi mengurangi 392 kilogram (kg) sampah kertas. Hal itu berkontribusi dalam performa ESG, khususnya pengurangan limbah (waste reduction). Sejumlah formulir yang harus diisi pekerja juga melalui digitalisasi. Sejak 2020-2023, pihaknya berhasil mengurangi 9 ton limbah kertas, setara dengan penghematan biaya sekitar Rp 6 juta.
Pihaknya juga memiliki platform yang dapat diakses karyawan untuk melaporkan bahaya di sekitar area kerja. Platform itu untuk menganalisis insiden sebagai dasar pengambilan keputusan guna meningkatkan performa keamanan kerja. Langkah itu dapat mengurangi 3 kg sampah kertas atau menghemat biaya sekitar Rp 3 juta pada 2022-2023.
Sementara itu, penerapan AI dalam operasional dilakukan dengan memasang kamera di kendaraan dan unit alat berat. Fungsinya memberi peringatan jika karyawan menunjukkan gejala seperti microsleep (tidur singkat). AI menganalisa perilaku operator untuk mengurangi risiko insiden.
General Manager Area Jawa, Bali, dan Indonesia Timur, PT Gaya Makmur (GM) Tractors Philip Simanjuntak menambahkan, industri alat berat memegang peranan krusial dalam pembangunan, termasuk di pertambangan. Namun, penggunaan mesin disel yang dominan membawa konsekuensi polusi suara hingga emisi gas buang yang berdampak pada iklim.
”Inilah mengapa pergeseran penggunaan alat berat berbahan bakar disel ke alat berat bertenaga listrik bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan di masa depan. Untuk itulah, GM Tractors membangun kemitraan panjang dengan XCMG Electric Loader,” ucap Philip.
Data menunjukkan, hingga Desember 2024, XCMG Electric Loader telah menjual 6.235 unit loader listrik secara global. Pencapaian ini tidak hanya sebatas loader listrik, tetapi juga ekskavator listrik, motor grader listrik, dan crane bertenaga listrik.
”Di Indonesia, alat-alat berat bertenaga listrik ini telah digunakan perusahaan-perusahaan terkemuka mitra GM Tractors. Teknologi ini dinilai matang dan siap diadopsi. Dari sisi lingkungan, alat berat listrik menawarkan solusi mengurangi emisi dan polusi suara signifikan. Lingkungan kerja pun akhirnya bersih dan sehat,” katanya lagi.
Hal yang penting adanya efisiensi biaya. Menurut Philip, penggunaan alat berat listrik secara drastis mengurangi ketergantungan pada bahan bakar disel yang mahal. Ditambah lagi, harga bahan bakar tersebut tidak stabil.
Biaya operasional kendaraan berat listrik per jam jauh lebih rendah. Menurut pengalaman penggunaan alat berat loader bertenaga listrik XC968EV di site pertambangan Kalimantan Selatan, hanya membutuhkan biaya listrik sekitar Rp 50.737 per jam. Jauh lebih hemat dibandingkan biaya bahan bakar disel yang mencapai Rp 362.700 per jam.
”Penghematan ini bisa mencapai 87 persen atau setara Rp 1,6 miliar-Rp 1,9 miliar per tahun per unit. Biaya perawatan jauh lebih rendah,” ujar Philip.
Kendati demikian, pihaknya menyadari, perubahan besar memiliki tantangan, yaitu kebutuhan infrasturkut pengisian daya yang memadai dan biaya investasi awal yang tinggi. Selain itu, isu daya tahan baterai dalam kondisi panas ekstrem dan ketersediaan suku cadang hingga layanan purnajual.
Pengisian daya saat ini memerlukan 60-80 menit menjadi pertimbangan. Namun, tantangan-tantangan ini bagian proses transisi. Pihaknya terus berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan serta membangun skosistem penggunaan alat berat listrik secara luas.
”Kami melihat, investasi ini bukan sebagai beban, tetapi investasi untuk masa depan yang berkelanjutan, efisien, dan ramah lingkungan,” kata Philip.
Pergeseran preferensi
Manager Battrey Metals S&P Global Commodity Insight Leah Chen menuturkan, secara umum penjualan kendaraan listrik (electric vehicle /EV) di pasar global meningkat 8,2 persen pada periode Mei-Juni 2025. Perkembangan yang eksponensial itu didorong China dan empat negara teratas di Eropa, yaitu Jerman, Perancis, United Kingdom, dan Norwegia.
”Penjualan mobil listrik China meningkat 1 juta unit pada Mei-Juni. Penjualan mobil listrik China sangat tinggi dibandingkan negara-negara lain,” tutur Leah.
Ekspor mobil listrik China totalnya 987 unit dalam paruh pertama 2025. Angka itu, 37 persen dari penjualan mobil listrik global. Ekspor mobil listrik yang lebih tinggi merupakan hasil ekspansi cepat mobil listrik China seperti BYD di pasar luar negeri.
Apa artinya untuk nikel? Terdapat dua jenis baterai yang digunakan di pasar. Salah satunya LFP (lithium iron phosphate) dan NMC (nickel manganese cobalt). Seperti namanya, baterai NMC terdapat nikel, mangan, dan kobalt.
Adapun baterai LFP tidak memiliki kandungan nikel atau kobalt. LFP semakin terkenal di dalam China, tetapi juga di luar China. Pangsa pasar baterai LFP berkisar 70-80 persen di dalam negeri China, sedangkan pangsa pasar baterai NMC berkisar 20-30 persen.
Hal ini karena baterai LFP terkenal di pasar China karena tidak memiliki kobalt atau nikel. Sebenarnya, baterai tersebut jauh lebih murah dibandingkan baterai NMC. Di luar China, menurut tim analis S&P Global Commodity Insight, tren ini juga akan bertumbuh di pasar luar China. Pangsa pasar baterai LFP juga akan perlahan meningkat hingga 50 persen di pasar luar China.
”Biaya yang lebih rendah juga lebih menarik bagi pembuat baterai LFP. Jadi, tren ini berubah ke arah baterai LFP. Pergeseran preferensi itu telah menekan harga nikel sulfate, secara umum pada kuartal kedua (Q2) 2025,” ujar Leah.
Tren perpindahan ke baterai LFP telah memengaruhi permintaan nikel sulfat dan kobalt sulfat, yang merupakan bahan baku utama memproduksi baterai NMC. Pada Q2-2025, harga nikel sulfate 27.500 yuan per metriks ton tertekan hingga 26.000 yuan per metriks ton.
Baca Juga Pemurnian Bauksit, Tak Sebatas Menciptakan Nilai Tambah
Di Tanah Air, tantangan berupa pasokan nikel dari Indonesia dinilai berlebih (oversupply). Berdasarkan laporan dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia bertajuk Terhimpit Perlambatan Domestik, Terguncang Risiko Global yang dirilis 24 Juli, kelebihan pasokan dapat mengancam stabilitas industri tersebut.
Baca Juga Nikel dan Kemajuan Ekonomi Daerah
Pasokan nikel dari Indonesia diproyeksikan akan terus tumbuh dan mendominasi hingga 72-74 persen pasokan nikel global hingga 2040. Jika tidak diantisipasi, akan menciptakan oversupply yang lebih kronis.
KompasESG Pertambangan nikel mobil listrik
Kerabat Kerja
Penulis:
Emanuel Edi Saputra
|
Editor:
Aris Prasetyo
|
Penyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul




