Fufu Clan: Suara Kelas Menengah yang Terimpit di Tengah Realita
Sumber Foto: magdalene.co
Hiburan

Fufu Clan: Suara Kelas Menengah yang Terimpit di Tengah Realita

Saya suka lagu punk yang memperjuangkan hak rakyat tertindas dengan kemarahan menggebu-gebu. Namun, ketika mendengar band punk elektronik Fufu Clan mengeluhkan kehidupan kelas menengah di Indonesia, saya merasa terwakilkan.

Pertama kali dengar band Fufu Clan di KRL Commuter Line, saya langsung jatuh hati. Cerita tentang berdesakan di kereta sumpek jam pulang kantor familier di telinga saya. Teman-teman saya yang harus berjuang nyempil di tengah kepadatan manusia itu, sering mengeluhkan nasibnya.

Maka, ketika vokalis Elsha Graciela menggambarkan keadaan KRL dalam balutan instrumen upbeat ceria, wajah sambat teman-teman auto-tergambar di kepala.

Tempo drum cepat ditemani keramaian synthesizer dan bass yang direkam sementah mungkin, relatif memuaskan telinga. Setiap instrumen tidak kehilangan esensinya. Tidak menutup, maupun bertabrakan satu sama lain. Mereka mengisi udara dengan tepat sehingga kekosongan adalah hal yang mustahil.

Baca juga: Belajar dari Kasus Emir White Chorus, Perlukah Figur Publik Buka Identitas di Tengah ‘Cancel Culture’?

Kelas Menengah di Jalan

“Hak tinggi / untuk hak yang tinggi // hak tinggi / yang tertindih,” sebagaimana dinyanyikan Elsha pada bridge lagu KRL.

Permainan kata itu mungkin terdengar sederhana. Namun, cukup bisa menggambarkan, rasa pegal memakai hak tinggi di KRL sepulang bekerja nine to five. Hak warga kelas menengah yang terlihat tinggi, padahal untuk menggunakan hak berada di KRL itu saja harus tindih-tindihan dengan penumpang lain.

Tak selesai pada permainan kata yang ciamik, saya juga terkesan dengan cara band ini mempertahankan rima dalam setiap bait, bridge, dan reff. Suku kata dibuat seimbang antarkalimat, membuat rima menonjol dan vokal lagu ini terasa catchy.

Diksi yang digunakan pun tidak rumit. Hanya butuh dua kali dengar hingga mulut saya bisa menggumamkan beberapa kata, menemani pundak dan kepala saya yang sudah terhentak tak beraturan, laiknya mendengarkan musik punk. Ini akan cocok untuk pendengar yang mencari penyemangat setelah dihabisi realita naik KRL jam pulang kerja.

Di sisi lain, Fufu Clan mengajak pendengar merefleksikan hidupnya di jalan raya ketika berkendara motor atau naik ojek daring dalam lagu Lantas. Tak seperti KRL yang jingkrak-jingkrak, Lantas terasa tenang meski tetap dengan instrumen yang ramai dan sentuhan elektronik.

Pergantian tempo dilakukan dengan rapi dalam lagu ini. Meski diawali dengan pelan, Fufu Clan menaikan kecepatan di pertengahan hingga akhir lagu. Lantas akan membawa pendengarnya menjadi pemeran utama yang sedang menjalani credit scene di akhir episode anime Jepang. Pun demikian, lagu ini lebih condong menggambarkan adegan berangkat kerja.

“Asap di muka / yang baru saja ku rapikan / sebelum berangkat / kerja di pusat kota.” Lirik tersebut mengingatkan saya pada rutinitas mandi pagi yang akan nampak sia-sia. Begitu sudah bersatu dengan kemacetan jam berangkat kerja, wajah yang baru dicuci beberapa jam sebelumnya akan kehilangan kesegaran.

Muka lemas dan kusam yang saya bawa masuk ke kantor pun cocok dengan penggalan reff lagu ini: “ Hey / betapa melelahkan / baru juga jalan.”

Baca juga: ‘Jagad’e Raminten’: Saat Nia Dinata Memotret Queer Tanpa Tragedi

Dijual untuk Membeli

Pertama kali rilis pada 2024, inspirasi lagu Fufu Clan datang dari hal tidak terduga. Bassist Fufu Clan Hara dan drummernya Faiz sedang mencari topik yang ingin diangkat dalam lagu. Awalnya mereka ingin menulis tentang bahaya judi daring yang sedang ramai dibicarakan saat itu.

Pun demikian, mereka tak punya pengalaman langsung dengan masalah itu. Saat sedang kembali berpikir, notifikasi bayar cicilan muncul di ponsel Hara. Ini bukan pertama kali dia mendapat notifikasi tersebut. Ia merasa terganggu setiap sesuatu di ponselnya mengingatkan bayar cicilan.

“Yang namanya cicilan kan enggak terjadi satu-dua hari, berbulan-bulan, ada yang setahun. Ya, lo dihantui rasa kayak gitu kalau lo diem-diem aja sih, lo hebat sih lo,” ucapnya kepada Magdalene melalui Zoom pada (28/1).

Namun, hari itu, selain membawa perasaan menganggu, notifikasi bayar cicilan juga melahirkan ide lagu yang diberi judul PT Sumber Berkah. Fufu Clan menggunakan sudut pandang perusahaan pinjaman daring untuk membawakan masalah ini. Ia menawarkan solusi untuk memenuhi kebutuhan mengisi gaya hidup bagi mereka yang sudah lelah berusaha.

Menurut Hara, kebanyakan musisi membicarakan isu politik yang besar. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, ada gangguan-gangguan, yang tanpa disadari, terjadi karena masalah sosial dan politik. Makanya, Fufu Clan mengambil keresahan kecil itu untuk dibagikan ke pendengar.

“Kadang orang lupa sama hal kecil yang mengganggu mereka, mereka concern sama hal-hal gede yang happening, which is good. Tapi, kalau lo masih kerja capek, pulang token lo bunyi, ternyata lo pakai duit gajian lo, habis buat beli listrik, itu kan juga, lo belom merdeka gitu,” katanya.

Sementara itu, menurut Faiz dan Elsha, menjadi kelas menengah di Indonesia adalah hal yang mengerikan. Faiz menekankan kurangnya bantuan bagi kelas menengah. Mereka tak dianggap kesulitan memenuhi kebutuhan oleh negara, hingga akhirnya dilepas tanpa bantuan. “Benar-benar terimpit gitu,” ungkapnya.

Baca juga: Pertanyaan ‘Kalcer’: Memang Boleh Turun Aksi Cuma untuk Nonton Musisi?

Elsha kemudian menjelaskan dari mana impitan itu datang. Kelas menengah akan dipermasalahkan ketika menggunakan benda-benda subsidi. Namun, harga produk yang tak disubsidi pun masih terbilang mahal untuk kelas menengah. Ia mencontohkan tabung gas.

“Kita pakai nanti dibilang ‘lo kelas menengah, kok lo pakai gas warna hijau?’ Sorry, gue menengahnya juga, it is too expensive for us to buy that gas. And we still have to pay taxes, we still have to pay all of these things to maintain our social status,” tutur Elsha.

Himpitan kedua kemudian datang dari gaya hidup. Menurut Elsha, kelas menengah diarahkan menjadi konsumen produk gaya hidup. “Kita dijual untuk membeli, kita sudah menjadi produk untuk membeli, gitu loh. Dan kita sudah dibrainwash seperti itu,” lanjutnya.

Ketika mendengar penjelasan itu, saya teringat karya Fufu Clan berjudul Rungkad yang menjelaskan tipikal konsumsi kelas menengah dengan sangat relateable:

“Subscription online / autodebit e-wallet

Tarif internet / yang bikin tipis dompet

Dengerin musik / iklan selai dan roti

Nonton vidio / kena ads 2 kali!”

Tags:

artis Budaya Populer Electro Punk Fufu Clan Jam Pulang Kantor Kelas Menengah KRL Musisi Nine to Five Pop Culture Punk Seni Seniman