Inovasi Olahan Ikan Dukung Ekonomi Biru di Nisombalia
HARIAN FAJAR, MAROS – Tim dosen dan mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) melaksanakan program Transformasi Teknologi dan Inovasi Olahan Ikan sebagai upaya penguatan ekonomi biru di Desa Pesisir Nisombalia, Kabupaten Maros. Program ini merupakan langkah strategis dalam pemberdayaan masyarakat pesisir melalui penerapan teknologi tepat guna dan inovasi produk olahan ikan lokal, guna memperkuat ketahanan ekonomi keluarga nelayan sekaligus mendukung pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan.
Program ini diketuai Prof Yusriani (Fakultas Kesehatan Masyarakat), dengan anggota tim dosen Ramdan Satra (Fakultas Ilmu Komputer) dan Prof Hattah Fattah (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan). Tiga mahasiswa aktif turut berperan dalam pelaksanaan program, yaitu Syabil Gema Syuhada, Munawwarah, dan Ninih Mutmainnah T, yang terlibat langsung dalam pelatihan dan pendampingan masyarakat.
Fokus utama program ini adalah peningkatan kapasitas masyarakat pesisir dalam: penggunaan alat bantu teknologi semi-modern untuk pengolahan ikan
Penerapan prinsip higienitas dan sanitasi, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan pelatihan pengemasan produk, pencatatan usaha, pembagian peran kerja, dan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP).
Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (DIRJEN DIKTI SAINTEK), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek) melalui Skema Program Transformasi Teknologi dan Inovasi (PTTI) Tahun Anggaran 2025.
Sebagai bagian dari transformasi digital, masyarakat juga diperkenalkan dengan sistem pemasaran berbasis daring (e-marketing) untuk memperluas jangkauan produk melalui media sosial dan platform digital, sehingga produk olahan ikan dari Nisombalia dapat bersaing di pasar yang lebih luas.
“Program ini adalah wujud nyata transformasi ekonomi masyarakat pesisir melalui penguatan teknologi dan inovasi berbasis sumber daya lokal. Kami ingin Desa Nisombalia menjadi sentra olahan ikan yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing,” ujar Prof Yusriani.
Ramdan Satra menambahkan bahwa pelatihan e-marketing menjadi bagian penting dalam membentuk pola pikir masyarakat menuju wirausaha digital. “Melalui digitalisasi, pelaku usaha kecil dapat memasarkan produknya secara mandiri dan menjangkau konsumen di luar wilayahnya,” jelasnya.
Sementara itu, Prof Hattah Fattah menekankan pentingnya aspek keberlanjutan dalam setiap inovasi teknologi yang diterapkan. “Ekonomi biru tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan, tetapi juga menekankan pada pelestarian sumber daya laut dan lingkungan pesisir,” tegasnya.
Kegiatan ini melibatkan dua kelompok mitra utama, yaitu Kelompok Nelayan Kuri Caddi dan Kelompok Mama Muda Kuri Caddi, yang kini mulai mengembangkan berbagai produk olahan ikan seperti abon, kerupuk tulang ikan, dan tepung tulang ikan. Melalui program ini, mereka memperoleh pengetahuan baru dalam menjaga mutu produk, keamanan pangan, dan strategi pemasaran modern.
Tim pelaksana berharap program ini dapat menjadi model pengembangan ekonomi biru berbasis inovasi dan teknologi lokal, yang mampu menginspirasi desa-desa pesisir lainnya di Kabupaten Maros dan wilayah sekitarnya. (*)




