Negara ASEAN Aktif Kembangkan Energi Nuklir untuk Ketahanan Energi
Kutipan News - Ukuran teks
A- A A+
Listrik Indonesia | Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana mengungkapkan bahwa sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara mulai aktif mengeksplorasi pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sebagai bagian dari strategi pemenuhan kebutuhan energi jangka panjang. Hal tersebut ia ungkapkan di dalam kegiatan Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology (FIRST) Workshop, dikutip pada Jumat (06/03/2026).
Baca juga: Selisih Harga BBM Makin Lebar, Subsidi Terancam Membengkak
Menurut Dadan, lima konsumen energi terbesar di kawasan Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, yang menyumbang hampir 89 persen permintaan energi regional, saat ini tengah memperkuat kolaborasi dalam pengembangan energi nuklir. Kerja sama tersebut dilakukan melalui Jaringan Subsektor Kerja Sama Energi Nuklir (NEC-SSN) yang bertujuan memperkuat koordinasi dan pertukaran pengetahuan terkait teknologi nuklir sipil.
Ia menjelaskan bahwa energi nuklir dipandang sebagai salah satu opsi untuk menyediakan pasokan energi yang stabil sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi karbon di kawasan.
"Nuklir menawarkan solusi energi yang stabil, rendah emisi, dan mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan kemajuan teknologi seperti SMR, pengembangan nuklir kini semakin adaptif dan relevan bagi negara berkembang," ujar Dadan.
Dalam konteks Indonesia, pengembangan PLTN juga diarahkan untuk memastikan pemanfaatan energi nuklir dilakukan secara bertanggung jawab dengan memperhatikan standar keselamatan dan keamanan yang ketat. Dadan menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen memastikan setiap tahapan pengembangan PLTN dilakukan dengan tata kelola yang transparan serta dukungan sumber daya manusia yang memadai.
Kebijakan tersebut sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang menempatkan energi nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2029.
Berdasarkan proyeksi pemerintah, kontribusi energi nuklir dalam bauran energi primer nasional ditargetkan mencapai sekitar 11,7 hingga 12,1 persen pada 2060 dengan kapasitas terpasang sekitar 35 hingga 42 gigawatt (GW). Sebagai tahap awal, Indonesia menargetkan PLTN pertama dapat beroperasi secara komersial pada 2032 dengan kapasitas awal sekitar 250 megawatt (MW). Target tersebut telah dimasukkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025???2034.
Selain mendukung target dekarbonisasi, pengembangan energi nuklir juga dinilai memiliki keunggulan dari sisi efisiensi penggunaan lahan serta biaya operasional jangka panjang yang relatif lebih stabil. Dengan menggabungkan pengalaman nasional dan dukungan teknologi dari mitra internasional, pemerintah menilai pengembangan PLTN dapat menjadi salah satu opsi dalam memperkuat sistem ketenagalistrikan nasional di masa depan.
Advertisement




