Summer in Vienna Kembali Hadir dengan Perilisan Digital Katalog Musik Setelah Vakum
Summer in Vienna kembali hadir di ruang dengar publik setelah hampir satu dekade vakum. Band indie pop asal Yogyakarta yang aktif pada 2011 hingga 2017 itu mengumumkan perilisan ulang seluruh katalog karya mereka ke berbagai platform streaming digital. Mulai 18 Februari 2026, seluruh lagu Summer in Vienna dapat diakses melalui layanan seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Deezer, sehingga membuka kembali arsip musik mereka untuk generasi pendengar lama dan baru. Selama tujuh tahun masa aktifnya, Summer in Vienna menghasilkan dua single dan dua EP yang sebelumnya hanya tersedia dalam format fisik berupa CD dan kaset, serta unggahan terpisah di SoundCloud dan Bandcamp. Digitalisasi katalog ini diharapkan memberi kemudahan bagi para pendengar yang tumbuh bersama skena indie pop Yogyakarta di era 2010-an untuk kembali menikmati lagu-lagu tersebut dalam format yang lebih praktis. Langkah ini juga membuka peluang bagi pendengar baru untuk menelusuri jejak musik band yang sempat menjadi bagian penting dari komunitas indie pop lokal. Sebagai bagian dari perayaan perilisan digital ini, Summer in Vienna memilih lagu “Squirrels” sebagai single unggulan. Lagu ini sebelumnya hadir sebagai bonus track dalam versi kaset EP 'Shallow Lagoon Holidays' yang dirilis oleh Doggyhouse Records pada 2015. Summer in Vienna (2016) Untuk edisi terbaru, “Squirrels” diperkenalkan kembali dengan sampul baru garapan Dellana Arievta. Sampul baru ini memberikan nuansa visual yang berbeda pada salah satu lagu yang cukup diingat oleh penggemar mereka. Summer in Vienna lahir pada 2011 di tengah geliat komunitas indie pop Yogyakarta. Mereka tumbuh bersama berbagai kolektif lokal seperti Common People dan Indiepop Rising Club, yang saat itu aktif membangun ruang pertemuan bagi band-band independen. Penampilan perdana mereka berlangsung pada 14 Januari 2012 di Villa Van Resink, Kaliurang, dalam sebuah acara yang digagas Common People. Momen tersebut menjadi titik awal perjalanan panggung mereka. Pada 2013, band ini mulai membagikan materi rekaman secara daring melalui demo “Squirrels” di SoundCloud dan lagu “Falling Leaves” di Bandcamp. Setahun kemudian, mereka merilis EP 'Shallow Lagoon Holidays' dalam format CDR terbatas sebanyak 100 kopi. EP tersebut memuat enam lagu, seperti “Lemonade & Orange Juice”, “Marshmallow Cheeks”, “Have a Nice Day”, “Vienna”, dan “Falling Leaves”. Rilisan itu kemudian diproduksi ulang dalam format kaset oleh Doggyhouse Records pada 2015 dengan tambahan bonus track “Squirrels”. 'Shallow Lagoon Holidays' mendapat perhatian luas dan meraih sejumlah nominasi dalam ajang Indonesia Cutting Edge Music Awards 2014, termasuk untuk kategori The Best Indie Pop Track serta The Most Favorite Group, Band, or Duo. Pengakuan tersebut memperkuat posisi mereka di jaringan indie pop nasional saat itu. Pesta Perilisan Single "We’re in Love Again" Perjalanan musik Summer in Vienna berlanjut dengan single “We’re in Love Again” pada Oktober 2016, disusul EP kedua 'Autumn is Coming' pada 2017. EP ini berisi tiga lagu, yaitu “By the Lakeside”, “The Manta Ray”, dan “Old Enough to be Lonely”. Rilisan tersebut diperkenalkan dalam sebuah pertunjukan perpisahan di Yogyakarta yang sekaligus menutup perjalanan band ini. Selama periode 2011 hingga 2017, Summer in Vienna mengalami beberapa pergantian personel sebelum akhirnya memutuskan untuk berpisah. Para anggotanya, yang awalnya bertemu sebagai mahasiswa, kemudian menempuh jalur kreatif masing-masing. Matias, salah satu anggota inti sejak awal, membentuk unit rock alternatif Nood Kink. Ogi aktif bersama trio ukulele indie pop Answer Sheet, sementara Wipti dan Aan bergabung dalam band ska Sri Plecit. Gisa mengembangkan proyek shoegaze/dreampop Seahoarse, Tata dan Rizki mengerjakan proyek indie pop Nausea, dan Bram terlibat dalam unit metal Tumenggung. Perilisan digital katalog Summer in Vienna tidak hanya berfungsi sebagai arsip, tetapi juga sebagai pengingat akan dinamika skena indie pop Yogyakarta pada dekade lalu. Kembalinya lagu-lagu mereka ke ruang streaming memberi kesempatan bagi pendengar untuk mengingat kembali masa ketika komunitas, kolektif, dan semangat independen membentuk identitas musik lokal yang khas.




