OTT Bea Cukai, KPK Sita 5,3 Kg Emas dan Uang Tunai dalam Kasus Korupsi Importasi
Sumber Foto: Kompas.com
Hukum

OTT Bea Cukai, KPK Sita 5,3 Kg Emas dan Uang Tunai dalam Kasus Korupsi Importasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita emas seberat 2,8 kilogram senilai Rp 8,3 miliar dan emas 2,5 kilogram senilai Rp 7,4 miliar dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta terkait Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) pada

Emas tersebut merupakan satu dari sederet barang bukti yang disita KPK terkait kasus dugaan korupsi importasi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

"Rinciannya, uang tunai dalam bentuk Rupiah sejumlah Rp1,89 miliar; Dollar Amerika Serikat sejumlah USD 182.900; Dollar Singapura sejumlah SGD 1,48 juta; Yen Jepang sejumlah JPY 550.000," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu, dalam konferensi pers di Gedung KPK Merah Putih, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

"Logam mulia seberat 2,5 Kg atau setara Rp7,4 miliar; Logam mulia seberat 2,8 Kg atau setara Rp 8,3 miliar; dan 1 jam tangan mewah senilai Rp 138 juta," sambungnya.

Satu Orang Kabur

Sementara itu, Asep juga melaporkan bahwa John Field (JF) selaku Pemilik PT Blueray kabur dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta terkait Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

Proyek Satelit Kemhan Rugikan Negara Rp 300 Miliar, Siapa Tersangka Pelakunya?

Artikel Kompas.id

John Field sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi importasi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

"Satu lagi disaat kita akan temen-temen di lapangan akan lakukan tangkap tangan, itu Saudara JF melarikan diri," ujar Asep.

KPK, kata Asep, akan menerbitkan surat pencekalan terhadap John Field untuk mencegahkan kabur ke luar negeri.

"Terhadap tersangka JF, KPK akan menerbitkan surat permohonan pencegahan ke luar negeri dan meminta agar yang bersangkutan kooperatif mengikuti proses hukum ini," kata Asep.

Dalam perkara ini KPK telah menetapkan lima tersangka lain, yaitu Direktur Penindakan dan Penyidikan Direktorat Jenderal Bea Cukai (P2 DJBC) periode 2024-2026, Rizal; Kepala Subdirektorat Intelijen P2 DJBC Sisprian Subiaksono, dan Kasi Intelijen DJBC Orlando Hamonangan.

Selanjutnya ada Ketua Tim Dokumen Importasi PT Blueray, Andri; dan Manager Operasional PT Blueray, Dedy Kurniawan.

"KPK selanjutnya melakukan penahanan terhadap lima tersangka untuk 20 hari pertama sejak tanggal 5 sampai dengan 24 Februari 2026. Penahanan ini dilakukan di Rutan Cabang Gedung Merah Putih KPK," ucap Asep.

Atas perbuatannya, terhadap Rizal, Sisprian Subiaksono, dan Orlando Hamonangan selaku penerima disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a dan huruf b UU 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2021 dan 605 ayat 2 dan pasal 606 ayat 2 jo. pasal 20 dan Pasal 21 UU No.1 tahun 2023 tentang KUHP.

Ketiganya juga disangkakan melanggar Pasal 12 B UU 31 Tahun 1999 jo. UU No.20 Tahun 2021 jo. Pasal 20 jo. Pasal 21 UU No.1 tahun 2023 tentang KUHP.

Sementara itu, John Field, Andri, dan Dedy Kurniawan selaku pemberi, disangkakan melanggar pasal 605 ayat 1 a dan b dan 606 ayat 1 UU No.1 tahun 2023 tentang KUHP.