Peningkatan Praktik Suap Menggunakan Emas Terungkap oleh KPK dan PPATK
Sumber Foto: detikNews
Hukum

Peningkatan Praktik Suap Menggunakan Emas Terungkap oleh KPK dan PPATK

detikNews Berita

Serba-serbi Tren Suap Emas: Pernah Diendus PPATK hingga Diungkap KPK

Tim detikcom - detikNews

Minggu, 08 Feb 2026 08:21 WIB

Jakarta -

Praktik suap menggunakan barang kecil bernilai tinggi seperti emas semakin meningkat. Ternyata praktik suap menggunakan emas pernah diendus Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

PPATK sudah mengendus modus tersebut sejak 16 tahun lalu. Pemerintah pun mengantisipasi hal tersebut dengan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010. Aturan itu mengatur tentang penanganan tindak pidana pencucian uang di Indonesia.

"Kami sudah menemukan fenomena emas dipakai untuk suap sejak lama. Analisis pertama terkait pembayaran ilegal melalui penggunaan instrumen logam mulia atau emas pernah kami temukan bahkan sebelum tahun 2010," kata Ketua PPATK Ivan Yustiavandana, Sabtu (7/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Terungkap Jatah Rp 7 M/Bulan agar Pejabat Bea Cukai Loloskan Barang KW

Ivan juga menyinggung Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 2021 tentang Pihak Pelapor dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Dia mengatakan pedagang wajib lapor ke PPATK setiap transaksi di atas Rp 500 juta.

ADVERTISEMENT

"Setiap pedagang permata, perhiasan, atau logam mulia wajib melaporkan kepada PPATK transaksi di atas Rp 500 juta," katanya.

Ivan menegaskan PPATK dapat menelusuri suap dengan emas maupun modus apa pun.

"PPATK tetap bisa melakukan penelusuran dengan metode yang kami miliki," ucapnya.

Baca juga: Eks Direktur Bea Cukai Tersangka Suap Impor Punya Harta Rp 19,7 M

Sementara, Kepala Biro Humas PPATK, Natsir Kongah menyampaikan meski dapat disamarkan, suap dengan emas bukan berarti bisa lolos dari pemeriksaan PPATK. Pihaknya tetap dapat melakukan pelacakan.

"Kejahatan bisa disamarkan, tetapi aliran uangnya sulit untuk disembunyikan. Di situlah PPATK bekerja," ucap Natsir.

"Suatu saat (emas) kan dicairkan," lanjutnya.

Natsir pun menyampaikan, jangan menganggap jika melakukan suap dengan emas bisa lolos dari pemeriksaan. Menurutnya, seseorang pun melakukan transaksi dengan uang saat membeli emas.

"Benar, jangan anggap suap emas bisa lolos dari PPATK. Prinsipnya, kita mengejar uang hasil kejahatan. Follow the money," katanya.

Tren Suap Pakai Emas

KPK menemukan tren suap emas saat beberapa kali melakukan operasi tangkap tangan (OTT). KPK mencatat ada peningkatan suap menggunakan emas.

"Tren yang disampaikan, memang benar apalagi sekarang, tren harga emas yang dalam beberapa bulan terakhir ini terus meninggi ya menanjak gitu ya," kata Plt Deputi Penindakan KPK Asep Guntur Rahayu dalam konferensi pers di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta.

Dia mengatakan emas merupakan barang yang kecil, tapi bernilai besar. Terlebih harganya yang terus naik bahkan sempat menyentuh Rp 3 juta per gram.

"Kan jadi barang yang digunakan untuk memberikan suap itu biasa adalah barang-barang yang ringkas, barang-barang yang kecil tetapi menilai besar. Ya yang legal, artinya yang legal ya," ujarnya.

Baca juga: Modus Suap Pakai Emas Pernah Diendus PPATK 16 Tahun Lalu

Barang bernilai tinggi lain yang kerap digunakan dalam praktik suap ialah mata uang asing. Dia mengatakan KPK beberapa kali menemukan barang bukti emas saat OTT.

"Membawanya mudah, ringkas, diberikannya tidak berat. Begitu pun juga dengan emas, memang betul trennya seperti itu ya tentunya dengan beberapa kali kita melakukan mendapatkan barang bukti pada saat tertangkap tangan ini berupa emas, ya kita juga jadi aware gitu ya seperti itu," sebutnya.

KPK belum akan membuat tim khusus memantau harga emas. KPK bisa bekerja sama dengan pihak lainnya untuk melakukan pemantauan.

"Tapi untuk pembentukan timnya sendiri, pemantauan itu akan mudah kita melihat pergerakan harga emasnya. Kita lebih fokus untuk saat ini, apalagi secara sumber daya manusia, khususnya di dalam Kedeputian Penindakan ini masih kekurangan," ucapnya.

KPK Temukan Emas Saat OTT Bea Cukai

Terbaru, KPK menemukan emas saat OTT di Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC). Salah satu barang buktinya adalah emas seberat 5,3 gram.

Berikut barang bukti yang diamankan KPK:

- Uang tunai dalam bentuk Rp1,89 miliar

- Uang tunai dalam bentuk USD 182.900

- Uang tunai dalam bentuk SGD 1,48 juta

- Uang tunai dalam bentuk JPY 550.000

- Logam mulia seberat 2,5 Kg atau setara Rp 7,4 miliar

- Logam mulia seberat 2,8 Kg atau setara Rp 8,3 miliar.

Total, ada enam orang yang menjadi tersangka dalam kasus ini. Berikut identitasnya:

1. Rizal (RZL) selaku Direktur Penindakan dan Penyidikan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (P2 DJBC) periode 2024 sampai Januari 2026;

2. Sisprian Subiaksono (SIS) selaku Kepala Subdirektorat Inteljien Penindakan dan Penyidikan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kasubdit Intel P2 DJBC);

3. Orlando (ORL) selaku Kepala Seksi Intelijen Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (kasi Intel DJBC);

4. Jhon Field (JF) selaku Pemilk PT Blueray

5. Andri (AND) selaku Ketua Tim Dokumen Importasi PT Blueray

6. Dedy Kurniawan (DK) selaku Manager Operasional PT Blueray.

Para pegawai Bea Cukai yang menjadi tersangka diduga menerima suap untuk meloloskan barang-barang impor dari pihak pemberi suap. KPK menyebut praktik suap tersebut menyebabkan barang KW hingga ilegal masuk ke RI.

Tonton juga video "Harga Emas Antam Hari Ini Anjlok Rp 100.000/Gram!"

[Gambas:Video 20detik]

Halaman 2 dari 2

(dek/dek)

suap emas ppatk kpk praktik suap tren suap round-up

Berita Terkait

Berita detikcom Lainnya

detikFinance

RI Bakal Punya Storage Minyak Kapasitas 3 Bulan, Tanpa Duit APBN

Sepakbola

'Igor Tudor Bukan Manajer yang Tepat untuk Spurs'

detikNews

Prabowo Heran BUMN Boleh Diaudit Negara tapi Anak-Cucu Perusahaan Tak Boleh

detikInet

Teknologi Ranjau Laut yang Mulai Dipasang Iran di Selat Hormuz

detikTravel

Perang di Timur Tengah Terus Berkecamuk, Turis China Terkena Dampaknya

Wolipop

Tampil Sederhana, Pekerjaan Wanita Ini Ternyata Bikin Kaget

detikFood

Sukami: Kwetiau dan Mie Yamin Rp 25 Ribuan Enak di Dekat LRT Pancoran

part of

Connect With Us

Copyright @ 2026 detikcom.

All right reserved

Kategori

detikNews

detikEdukasi

detikFinance

detikInet

detikHot

detikSport

Sepakbola

detikOto

detikProperti

detikTravel

detikFood

detikHealth

Wolipop

detikX

20Detik

detikFoto

detikHikmah

detikPop

Layanan

berbuatbaik.id

Pasang Mata

Adsmart

detikEvent

Signature Awards

Trans Snow World

Trans Studio

Bingkai.id

Ziswafctarsa.id

Flying Over Indonesia

For Your Business

rekomendit

Community Connect

Informasi

Redaksi

Pedoman Media Siber

Karir

Kotak Pos

Media Partner

Info Iklan

Privacy Policy

Disclaimer

Jaringan Media

CNN Indonesia

CNBC Indonesia

Haibunda

Insertlive

Beautynesia

Female Daily

CXO Media