Potensi Konflik AS-Israel dan Iran: Implikasi bagi ASEAN
Kutipan News - KOMPAS.com - Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terjadi baru-baru ini memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat global, termasuk di Indonesia.
Serangan militer dilaporkan terjadi pada Sabtu (28/2/2026), ketika AS dan Israel menggempur sejumlah wilayah di Iran, termasuk ibu kota Teheran.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan balasan yang menyasar pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk di Uni Emirat Arab, pada hari berikutnya.
Meski konflik tersebut tidak berkaitan langsung dengan negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN), termasuk Indonesia, kekhawatiran akan meluasnya konflik tetap muncul.
Informasi terkait potensi eskalasi menjadi penting agar masyarakat dapat mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Apakah mungkin konflik meluas ke ASEAN?
Dosen Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Djuwana, menilai bahwa hingga saat ini belum ada indikasi konflik akan meluas ke kawasan ASEAN.
“Untuk sementara tidak ada ya,” ujarnya saat dimintai pandangan Kompas.com, Senin (2/3/2026).
Ia justru mengingatkan adanya potensi reaksi dari masyarakat di negara-negara ASEAN, khususnya yang mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Indonesia.
“Yang saya khawatirkan, mereka melakukan tindakan anarkis terhadap kepentingan AS di negaranya, termasuk kedutaan dan konsulat, sebagai bentuk ketidaksetujuan atas serangan AS ke Iran,” jelasnya.
Potensi aksi massa dan pengalaman masa lalu
Hikmahanto menambahkan, aksi serupa pernah terjadi di beberapa negara, termasuk Pakistan. Bahkan di Indonesia, kejadian tersebut juga pernah muncul saat AS menyerang Afghanistan.
Ia mengingatkan potensi tindakan seperti sweeping terhadap warga negara asing, termasuk warga AS atau Israel, yang pernah terjadi sebelumnya di Indonesia.
“Hal seperti itu yang tidak kita harapkan kembali terjadi,” katanya.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya kewaspadaan aparat keamanan dalam mengantisipasi kemungkinan tersebut.
Respons pemerintah Indonesia
Sementara itu, pemerintah Indonesia menyatakan kesiapannya untuk berperan aktif dalam meredam konflik.
Presiden Prabowo Subianto disebut siap memfasilitasi dialog antara pihak-pihak yang bertikai.




